Berita  

Pemkab Kudus Berencana Tahun 2026 Parade Sewu Kupat Muria Masuk Rekor MURI

KUDUS – jursidnusantara.com Tradisi tahunan “Parade Sewu Kupat” kembali digelar dengan meriah dilereng Gunung Muria, Kabupaten Kudus pada Senin, 7 April 2025. Ribuan ketupat yang dibentuk gunungan diarak dalam prosesi budaya yang sarat makna religius dan kekeluargaan ini.

Parade Ketupat jatuh pada hari ke 8 setelah Hari Raya Idul Fitri. Warga dari berbagai desa se-Kecamatan Dawe, turut ambil bagian dalam parade dengan hiasan ketupat dan beragam hasil bumi.

Tampak hadir dalam tradisi ini Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, Wabup Kudus Bellinda Birton, mantan Bupati Kudus yang kini menjabat sebagai anggota DPR RI H Musthofa yang merupakan penggagas tradisi Sewu Kupat Muria, serta sejumlah pejabat lain.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris menyebut akan mengusulkan Rekor MURI untuk Tradisi Sewu Kupat di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Pengusulan tersebut, rencananya akan dilakukan di tahun 2026 mendatang.

Tradisi Sewu Kupat merupakan tradisi tahunan setiap Lebaran Ketupat atau hari kedelapan Bulan Syawal, yang digelar sejak tahun 2007 lalu. Tradisi ini digagas sebagai destinasi budaya di Desa Colo sekaligus “ngalap berkah” Sunan Muria.

“Tahun 2026 nanti akan kami usulkan akan bisa masuk Rekor MURI di 2026,” ujar Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris dalam acara Parade Sewu Kupat Muria di Taman Ria, Desa Colo, Senin, 7 April 2025.

Pihaknya menekankan bahwa Parade Sewu Kupat menjadi tradisi kebanggaan masyarakat di Kabupaten Kudus setiap syawalan. Tradisi ini menjadi cerminan ajaran Sunan Muria tentang toleransi, budaya, dan nilai spiritual.

“Kita harus bersama-sama mengenalkan budaya ini lebih luas lagi, lebih-lebih hingga taraf nasional dan internasional,” tandasnya.

Sementara itu, Mutrikah Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, mengungkapkan akan segera menyiapkan konsep agar rencana pencatatan Parade Sewu Kupat Muria ke Rekor Muri bisa terealisasi.

“Kami akan komunikasikan dengan masyarakat, stake holder terkait bagaimana agar sewu kupat ini bisa tercatat di rekor MURI. Pertama kami buat konsepnya dulu, lalu kami koordinasikan lebih lanjut,” katanya.

Tika panggilan akrab Mutrikah juga menjelaskan, jika keunikan Parade Sewu Kupat Muria memiliki daya tarik tersendiri. Dalam benaknya, untuk merealisasikan Parade Sewu Kupat tercatat dalam rekor MURI bisa dengan berbagai opsi.

“Kami mencoba melihat, bagaimana jika selain di kirab, gunungan kupat lepet dan hasil bumi dalam Parade Sewu Kupat ini dikonsep secara unik dan menarik, sehingga menambah esensi dari tradisi itu sendiri,” jelasnya.

Apalagi, potensi pemandangan lereng Gunung Muria yang khas semakin melengkapi keindahan prosesi Parade Sewu Kupat Muria. Pencatanan Rekor Muri untuk tradisi ini tentunya harus berkesan dan memiliki ciri khas.

“Kudus punya Sunan Muria, pemandangan alam Gunung Muria, dan jalan berkelok yang tidak ditemukan di daerah lain, ketika dipadupadankan dengan Parade Sewu Kupat Muria. Ini akan menjadi sesuatu yang sangat unik,” terangnya.

Kedepan kami tengah mengkaji dengan menata gunungan kupat, lepet, serta hasil bumi secara estetik disepanjang jalur menuju Taman Ria dari kawasan Makam Sunan Muria.

“Kedepan kupat, lepet, hasil bumi tidak hanya dikirab saja, tapi kita susun se-artistik mungkin sepanjang jalan, menciptakan visual yang unik dan ikonik,” ujarnya.

Keunggulan lanskap Kudus yang memiliki nilai lebih. Dengan latar Gunung Muria, panorama alam yang asri, serta jalur jalanan berkelok khas lereng gunung, prosesi parade akan menjadi daya tarik wisata yang luar biasa.

“Kudus punya kekuatan alam dan budaya yang tidak dimiliki daerah lain. Ketika Parade Sewu Kupat Muria dipadukan dengan keindahan lereng Gunung Muria dan nuansa religi Sunan Muria, ini akan menjadi pengalaman wisata yang tak terlupakan,” pungkasnya.

(Elm@n)