KUDUS – jursidnusantara.com Ribuan penonton hadiri pagelaran sandiwara Kethoprak yang disenggarakan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Jum’at, 29 Agustus 2025.
Pagelaran seni kethoprak tersebut dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Repubilik Indonesia yang ke-80.
Kepala Desa (Kades) Indarto mengatakan, bahwa kegiatan Kethoprak pada hari ini merupakan peringatan HUT Kemerdekaan RI yang Ke-80.
“Seni kethoprak Wahyu Budoyo asal Kabupaten Pati yang kita saksikan merupakan progam Pemdes Jepang atas usulan dari masyarakat dan keputusan bersama,” ujar Indarto pada Jum’at malam, 29 Agustus 2025.
Perlu diketahui bahwa, sebelumnya pada tanggal 16 Agustus 2025, Pemdes Jepang juga mengadakan malam tirakatan yang kita selenggarakan di Aula Balai Desa.
“Gelaran kethoprak ini sesuai dengan janji yang pernah saya sampaikan waktu pengajian malam 1 Muharram 1447 Hijriyah, pada bulan Agustus 2025 akan ada pagelaran Kethoprak,” terangnya.

Kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua panitia, semua pihak yang telah bekerja semaksimal mungkin demi sukses dan lancar kegiatan yang diselenggarakan oleh Pemdes Jepang.
“Ini merupakan kerjasama antar Pemdes, BPD, Lembaga Desa, Karangtaruna, RT, RW, PKK dan masyarakat semuanya yang membantu demi sukses dan lancarnya kegiatan ini,” ucapnya.
“Dengan semangat kemerdekaan mari kita terus tingkatkan semangat untuk mengisi kemerdekaan ini, dengan gotong royong, guyub, rukun, kompak demi untuk kemajuan desa Jepang yang kita cintai ini.
Diantara ribuan penonton Mbah Joko (55) warga Desa Jepang mengatakan, senang menonton pagelaran seni kethoprak, apalagi Kethoprak Wahyu Budoyo.
“Kethoprak Wahyu Budoyo menurutku dalam memainkan cerita dalam sandiwara dipanggung masih pakem sesuai dengan aslinya,” katanya.
Saya berharap kepada Pemdes Jepang kegiatan kesenian Kethoprak diadakan setahun sekali. Karena ini merupakan budaya asli Jawa, asli Indonesia yang harus kita lestarikan.
“Semoga Desa Jepang minimal setahun sekali menghadirkan seni kethoprak, ini warisan asli budaya kita yang harus di uri-uri dan dikenalkan kepada anak cucu kita,” harapnya.

Sementara itu, Rini (63) warga Desa Puyoh Kecamatan Dawe dirinya mengaku senang jika ada tontonan Kethoprak, geratis lagi. Dulu waktu muda sering nonton pagelaran seni Kethoprak dimanapun.
“Sering nonton seni kethoprak, tadi datang kesini rombongan dengan temen,” tuturnya.
Sementra itu, Mbah Kumis, (57) asal Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, ia mengatakan suka nonton Kethoprak, sejak masih muda. Pagelaran seni Kethoprak itu budaya asli Jawa dan harus tetap dilestarikan.
Walaupun Kethoprak saat ini sudah banyak yang melenceng dari pakem, yang penting tetep menghibur dan tidak terlalu merubah maksud dan tujuan dalam cerita ketika dimainkan.
“Mungkin menyesuaikan dari zamnya, Kethoprak saat ini kayaknya sudah agak keluar dari pakem, tidak seperti yang dulu,” katanya.
(Elm@n)












