Yogyakarta, jursidnusantara.com Di lereng Gunung Merapi, nama Mbah Maridjan bukan sekadar dikenal sebagai juru kunci. Bagi banyak orang, ia adalah simbol pengabdian, kesederhanaan, dan kesetiaan pada amanah yang diemban hingga akhir hayat.
Pria bernama asli Mas Penewu Surakso Hargo itu lahir di Dusun Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, pada 5 Februari 1927. Sejak muda, ia mengabdi sebagai abdi dalem Keraton Yogyakarta sebelum dipercaya Sri Sultan Hamengkubuwono IX menjadi juru kunci Gunung Merapi pada 1982, menggantikan ayahnya. Tugasnya bukan menjaga gunung secara fisik, melainkan merawat tradisi, memimpin ritual adat, dan menjadi penghubung budaya antara Keraton Yogyakarta dengan masyarakat lereng Merapi.
Namanya mulai dikenal luas saat aktivitas Merapi meningkat pada 2006. Di tengah imbauan evakuasi dari pemerintah, Mbah Maridjan memilih tetap berada di kediamannya karena merasa masih mengemban amanah sebagai juru kunci. Sikap tersebut menjadikannya sosok yang dikenang karena keteguhan memegang prinsip, meski di sisi lain menjadi pengingat bahwa keselamatan masyarakat saat bencana tetap harus mengacu pada arahan otoritas kebencanaan.
Empat tahun berselang, tepat pada 26 Oktober 2010, erupsi besar Merapi meluluhlantakkan kawasan Kinahrejo. Awan panas menerjang permukiman dan merenggut nyawa Mbah Maridjan di rumahnya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam sekaligus menjadikannya bagian dari sejarah panjang Gunung Merapi.
Kini, lebih dari satu dekade setelah peristiwa itu, petilasan Mbah Maridjan di Kinahrejo telah menjelma menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di lereng Merapi. Rumah yang menjadi saksi bisu erupsi dipertahankan sebagai pengingat dahsyatnya letusan Merapi sekaligus penghormatan atas pengabdian sang juru kunci. Wisatawan dari berbagai daerah datang untuk melihat langsung sisa-sisa bangunan, benda-benda yang terdampak erupsi, dan mendengarkan kisah perjuangan Mbah Maridjan.
Suasana kawasan tersebut kini jauh berbeda. Ratusan armada Jeep Lava Tour Merapi berjejer setiap hari, siap mengantar pengunjung menjelajahi berbagai destinasi ikonik di sekitar lereng Merapi. Perjalanan tidak sekadar menyuguhkan panorama alam, tetapi juga pengalaman memacu adrenalin saat jeep melintasi jalur berbatu, hamparan pasir vulkanik, tanjakan terjal, hingga menerobos aliran sungai yang menjadi ciri khas Lava Tour. Sensasi cipratan air, debu vulkanik, dan medan ekstrem berpadu dengan keindahan bentang alam Merapi, menciptakan pengalaman yang sulit dilupakan.
Di balik geliat pariwisata itu, petilasan Mbah Maridjan tetap menjadi ruang refleksi. Tempat ini mengingatkan bahwa Merapi bukan hanya menyimpan pesona wisata, tetapi juga sejarah, budaya, dan pelajaran tentang hubungan manusia dengan alam. Dari sosok Mbah Maridjan, pengunjung diajak memahami makna pengabdian, sementara dari megahnya Merapi, mereka belajar bahwa keindahan alam selalu berjalan berdampingan dengan kekuatan yang harus dihormati.
Kini, nama Mbah Maridjan tidak hanya hidup dalam cerita masyarakat lereng Merapi, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan ribuan wisatawan yang datang setiap tahun. Pengabdiannya dikenang, petilasannya menjadi saksi sejarah, dan Merapi terus mengajarkan bahwa alam adalah sahabat yang patut dicintai sekaligus dihormati.












