KUDUS – jursidnusantara.com Pegiat seni dari Komunitas Seni Samar di Kabupaten Kudus, Jawa tengah, menggagas festival Kedung Gupit sebagai upaya pelestarian lingkungan, utamanya wilayah aliran sungai Gelis (Kedung Gupit).

Festival tersebut digelar ditepi sungai Kedung Gupit (Gelis). Kegiatan ini dalam rangka memperingati hari ulang tahun (HUT) komunitas seni Samar yang ke-26 (1998-2024), dan dibuka oleh H. Mawahib Afkar anggota DPRD Jateng yang sekaligus Calon Bupati Kudus. Sabtu, 27 April 2024.
Festival Kedung Gupit terselenggara atas hasil kolaborasi antara komunitas seni Samar dengan pemerintah desa panjang, acara tersebut tidak hanya mementaskan berbagai jenis seni, tapi juga mengangkat isu lingkungan hidup, yakni terkait isu sampah yang mencemari air sungai Gelis serta pelestarian lingkungan.

Dian Puspitasari,S.,SN ketua komunitas seni Semar dan sekaligus ketua panitia mengatakan, festival Kedung Gupit kami selenggarakan untuk menyinergikan teman teman pegiat lingkungan, teman teman kesenian, teman teman yang ingin mengajak masyarakat untuk menjaga lingkungan”, katanya.
Komunitas seni Samar sudah berusia 26 tahun. Komunitas ini terbentuk pada tanggal 1 Maret 1998 dan kini sudah memasuki bulan April 2024.
“Peringatan hari jadi komunitas seni Semar yang ke 26 sebenarnya pada tanggal 1 Maret 2024, namun karena ada satu dan lain hal, akhirnya baru terlaksana pada hari ini”, ujarnya.
Kami komunitas seni Samar yang bergerak dalam spirit pembangunan kebudayaan melalui kesenian, yang juga merupakan bagian dari masyarakat di Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus menggagas Platform kegiatan continue bertajuk “Festival Kali”.
Kami juga mengundang dan melibatkan semua masyarakat, serta pemerintah desa setempat untuk bergabung dalam perayaan ini dan merasakan keajaiban seni sambil berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Kegiatan ini kami selenggarakan selama dua hari.
“Kegiatan festival Kedung gupit ini berlangsung atas kerjasama komunitas seni, pemerintah desa dan masyarakat, acara ini digelar pada tanggal 27-28 April 204″, pungkasnya.
Sementara itu, H. Mawahib Afkar yang didapuk untuk membuka gelaran festival tersebut mengatakan, kegiatan ini adalah kegiatan kepedulian yang berwawasan lingkungan, bahwa warga panjang memerlukan spirit kesenian spirit hiburan dan hiburan yang mengarah ke banyak aspek seperti edukasi warga dan pelestarian lingkungan, dolanan tradisional”, katanya.
Lebih lanjut Mawahib menambahkan, bahwa gelaran festival Kedung Gupit ini, tidak hanya pentas seni atau edukasi warga saja, di hari kedua besuk juga ada kegiatan sadar lingkungan, yaitu dengan kegiatan penanaman pohon dan bersih bersih sungai Gelis, yang sat ini sudah mulai tercemari oleh adanya sampah plastik.
“Mari bersama-sama kita dapat membuat perubahan positif untuk masa depan yang lebih hijau dan lestari, nantinya desa ini kita kemas sebagai Edu wisata melalui refleksi seni dan budaya desa yang pada akhirnya membuka potensi ekonomi kreatif tingkat desa”, pungkasnya.
Terpisah, Edy Susanto Komunitas Seni Samar mengatakan, sungai yang bersih merupakan elemen penting bagi hajat hidup manusia. Sungai juga merupakan asset berharga bagi suatu desa. Namun seringkali sungai di desa kita terabaikan dan dipenuhi sampah.
Karena itu, melalui gelaran inilah Komunitas Seni Samar mendorong terciptanya regulasi dalam tatanan kehidupan norma masyarakat yang beripihak kepada penjagaan alam sebagai bagian fundamental dari keberlangsungan kehidupan masyarakat di Kabupaten Kudus.
”Singkat kata adalah Dalane Banyu, Dalane Urip. Mbumpeti Banyu Nekakno Bendu. Itu adalah tema kami di acara tahun ini”,
(Elm@n)












