KUDUS – jursidnusantara.com Pemerintah Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus Selenggarakan sedekah bumi atau apitan dengan berbagai macam kegiatan mulai dari khataman Al-Qur’an hingga pagelaran Kethoprak sehari semalam.

Tampak dilokasi ratusan penonton padati lapangan desa setempat untuk menyaksikan pagelaran Kethoprak Kembang Joyo pada Senin, 19 Mei 2025.
Bambang Totok Subiyanto, Kepala Desa (Kades) Kajar mengtakan, sedekah bumi yang diselenggarakan oleh Pemdes Kajar ini meneruskan tradisi tahunan yang telah diselenggarakan oleh para pendahulu dan diselenggarakan pada bulan apit dalam penanggalan Jawa.
Lebih lanjut Bambang menambahkan, bahwa rangkaian acara sedekah bumi ini dimulai dengan Khotmil Qur’an pada Sabtu pagi (17/5) kemarin. Kemudian penyembelihan dua ekor kerbau yang digelar bersama Pemdes, BPD, lembah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, warga dan tamu undangan lain.
“Selanjutnya setelah hewan kerbau disembelih siangnya daging dibagikan ke warga masyarakat per rumah. Malam harinya, malam minggu dilaksanakan istighosah do’a bersama mohon kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan dan keberkahan desa tentrem ‘Karso Raharjo’ diberi rezeki yang mudah,” imbuhnya.
Pada hari Minggu sore warga berkumpul mengadakan kenduren massal di setiap punden, belik, musholla, masjid, akal bakal, serta di lapangan setempat.
“Masih di hari yang sama, masyarakat dihibur dengan pagelaran wayang kulit Ringgit Purwo dengan lakon Wahyu Purbo Sejati. Pertunjukan ini berlangsung di lapangan desa dan menyedot perhatian masyarakat,” terangnya.
Dengan iringan gamelan dan narasi khas dalang, pertunjukan wayang menjadi simbol pelestarian budaya lokal yang tetap hidup di tengah modernisasi.
Kemeriahan berlanjut ke hari Senin, dengan digelarnya pagelaran Ketoprak Kembang Joyo, sebuah pertunjukan seni tradisional yang mengangkat cerita-cerita klasik Jawa.
“Pagelaran Kethoprak Kembang Joyo Dengan lakon Raden Wijoyo Ngerayu Babat Mojopahit,” ujarnya.
Penampilan para pemain ketoprak sukses menghibur warga, sekaligus mengedukasi generasi muda tentang nilai-nilai budaya Jawa.
Pihaknya mengapresiasi atas partisipasi seluruh warga dalam menjaga dan melestarikan tradisi sedekah bumi tetap berjalan.
“Ini bukan hanya soal budaya, tapi juga soal kebersamaan, rasa syukur, dan harapan akan keberkahan untuk Desa Kajar ke depan,” ujarnya.
Dengan rangkaian kegiatan ini, Sedekah Bumi Desa Kajar menjadi bukti nyata harmonisasi antara spiritualitas, budaya, dan sosial dalam kehidupan masyarakat desa.
Ahmadi Salah satu penonton berharap, tradisi sedekah bumi ini terus dilestarikan dan menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga serta memperkuat identitas budaya desa.
“Saya berterima kasih kepada Pemerintahan Desa Kajar dan saya berharap tradisi ini akan terus berjalan dan menjadi agenda tahunan yang lebih meriah di tahun-tahun mendatang” katanya.
Saya senang melihat pagelaran Kethoprak karena ini merupakan warisan budaya Jawa, kearifan lokal yang harus kita jaga dan lestarikan.
(Elm@n)












