KUDUS – jursidnusantara.com Pemerintah Desa (Pemdes) Singocandi, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus kembali menggelar tradisi apitan dalam penanggalan jawa atau “Sedekah Bumi” dengan menggelar berbagai kegiatan mulai khataman Qur’an hingga wayang kulit siang hingga malam. Kegiatan tersebut digelar di pada Jum’at, 15 Mei 2026.
Ketua panitia pelaksana Suwondo dalam sambutannya mengatakan, bahwa tradisi sedekah bumi memiliki makna penting bagi masyarakat Desa Singocandi, karena bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan simbol kebersamaan dan rasa syukur warga.
“Tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas rezeki dan hasil bumi yang diberikan Allah SWT. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi upaya menjaga budaya lokal agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda penerus bangsa,” katanya.
Pada malam ini kita adakan pagelaran wayang kulit sehari semalam dengan Dalang Ki Heri Purwono dan Dagelan Jolang Cs.
“Malam ini kita saksikan wayang kulit yang dimulai tadi siang hingga semalam suntuk,” ujarnya.
Lebih lanjut Suwondo menambahkan, bahwa berbagai kegitan dalam rangka sedekah bumi ini, telah kami selenggarakan. Diawali dengan malam tirakatan terbang papat pada Rabu (13/5), kemudian dilanjut khataman Qur’an pada Kamis pagi (14/5) lanjut malamnya ngaji sedekah bumi bersama KH Anshori.
“Rangkaian kegiatan diawali dengan terbang papat, khataman Qur’an, pengajian sedekah bumi di Punden “Mbah Buyut Ponjol,” imbuhnya.

Suwondo juga mengucapkan, banyak terima kasih kepada semua panitia, Pemdes Singocandi dan semua masyarkat yang telah berpartisipasi dan memberi bantuan dana, pemikiran, serta tenaganya, demi suksesnya acara.
“Terima kasih atas bantuan semua pihak. Semoga amal baik bapak, ibu, dan saudara mendapat balasan yang berlipat ganda Amin,” ucap Suwondo.
Ia juga menjelaskan, ditengah gempuran hiburan modern tradisi wayangan di Desa Singocandi ini, merupakan wujud pelestarian budaya dan kearifan lokal.
Menurutnya, tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan kepedulian warga terhadap pelestarian budaya jawa. Ia berharap melalui tradisi ini masyarakat Desa Singocandi senantiasa mendapat hasil tani yang lebih baik, dan limpahkan rezeki yang berkah, dijauhkan dari bencana, serta hidup rukun, makmur, dan sejahtera.
“Semoga Desa Singocandi menjadi desa yang makmur, gemah ripah loh jinawi, toto tentram raharjo,” pungkasnya.

Diantara ratusan penonton wayang kulit mbah Sulhadi (66) asal Desa Singocandi mengatakan, sering menonton wayang atau kethoprak. Semoga dari Pemdes Singocandi setiap tahun bisa mengadakan kegiatan hiburan rakyat.
“Saya sering nonton gelaran wayang dan kethoprak, tidak hanya desa Ini, tapi sering nonton hiburan rakyat ini dimana saja,” katanya.
Sementara itu, mbah Karsudi (89) Warga Desa Gribig hoby menonton pagelaran wayang kulit ataupun kethoprak sejak muda dan jika mendengar ada pagelaran wayang atau kethoprak pasti saya menonton
(Elm@n)












