Nasi Goreng Diduga Tercemar Belatung, Program MBG di Kampar Disorot

KAMPAR jursidnusantara.com  – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah ditemukan dugaan makanan tidak layak konsumsi di SD Negeri 016 Desa Kusau Makmur, Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar, Sabtu (18/04/2026).

Sejumlah siswa dilaporkan menemukan belatung hidup di dalam menu nasi goreng yang dibagikan. Makanan tersebut diketahui berasal dari Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi (SPPG) Desa Sumber Sari.

Temuan ini memicu kekhawatiran masyarakat terkait standar kebersihan dan keamanan pangan dalam pelaksanaan program nasional tersebut.


Pihak Pengelola Beri Klarifikasi

Asisten Lapangan SPPG, Fendriadi Chaniago (Ipen), membenarkan adanya kejadian tersebut. Namun, ia menyebut sumber belatung bukan berasal dari nasi goreng.

“Kami sudah menurunkan ahli gizi untuk klarifikasi. Belatung diduga berasal dari buah salak, bukan dari nasi goreng,” ujarnya, Minggu (19/04/2026).

Ia juga menegaskan bahwa proses pengolahan dan kontrol kualitas telah dilakukan sesuai prosedur.

Hal serupa disampaikan Al’Udri, Kepala Desa Kasikan yang juga mitra pengelola MBG melalui Yayasan Ulul Al-Bab.

“Kemungkinan dari salak. Kadang dari luar terlihat bagus, tapi di dalam busuk dan ada belatung, lalu bisa berpindah ke makanan lain,” jelasnya melalui pesan singkat.


Kritik terhadap Pengawasan dan Standar Higienitas

Meski telah ada klarifikasi, sejumlah pihak menilai kejadian ini menunjukkan adanya kelemahan dalam pengawasan bahan pangan.

Terlepas dari sumber belatung, keberadaan organisme hidup dalam makanan yang disajikan kepada siswa dinilai sebagai indikasi kegagalan sistem seleksi dan distribusi makanan.

Insiden ini juga memunculkan desakan agar pengelola program melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk pada proses:

  • Pemilihan bahan baku
  • Penyimpanan makanan
  • Distribusi ke sekolah

Tuntutan Transparansi dan Evaluasi

Mengacu pada dan prinsip keterbukaan informasi publik, masyarakat meminta agar kejadian ini ditangani secara transparan.

Pengelola program MBG, termasuk Yayasan Ulul Al-Bab, didorong untuk:

  • Melakukan investigasi internal
  • Memberikan penjelasan terbuka kepada publik
  • Menjamin kejadian serupa tidak terulang

Kepercayaan Publik Dipertaruhkan

Kasus ini menambah daftar persoalan dalam implementasi program makan gratis di daerah.

Program yang bertujuan meningkatkan gizi anak justru berisiko menurunkan kepercayaan publik jika tidak disertai pengawasan ketat.

Keselamatan dan kesehatan siswa menjadi prioritas utama, sehingga standar kebersihan makanan harus dijaga tanpa kompromi.