Berita  

LKiSS Sarankan Ketua KONI Kudus Mengundurkan Diri Dari Jabatannya, Bikin Gaduh Kota Santri

KUDUS – jursidnusantara.com Lembaga Kajian Strategis Kudus (LKiSS) menyayangkan adanya penampilan tarian tak pantas dalam acara KONI Award 2025 yang dinilai terlalu erotis dan ditampilkan di Pendapa Kabupaten Kudus yang selama ini dikenal sebagai tempat sakral untuk kegiatan resmi pemerintahan dan budaya.

Direktur LKiSS Sururi Mujib mengecam keras pembukaan acara yang digelar oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kudus yang yang viral di sosial media (Sosmed), lantaran adanya penampilan dancesport di Pendapa Kudus, tempat yang dianggap sakral.

Dalam video yang viral dimedia sosial, tarian dan pakaian yang dikenakan para penari tersebut tidak pantas untuk ditampilkan di lokasi tersebut.

“Pendapa ini kan tempatnya sangat sakral lah. Tidak untuk tempat ya untuk kayak itu (dancesport) kurang pas. Kan ada yang lain yang bisa ditampilkan di situ,” ujar Sururi pada Rabu, 31 Desember 2025.

KONI Award sendiri digelar sebagai ajang penghormatan bagi para atlet, pelatih, pengurus cabang olahraga, serta berbagai elemen yang konsisten mendorong kemajuan olahraga di Kabupaten Kudus.

Acara tersebut berlangsung pada Senin malam, 29/12/2025, dengan dihadiri berbagai pemangku kepentingan olahraga daerah.

Namun demikian, penampilan dancesport dalam acara tersebut dinilai tidak pantas karena diselenggarakan di Pendapa Kabupaten Kudus.

Aktivis kawakan Bung Sururi menegaskan, bahwa kegaduhan yang terjadi menjelang akhir tahun 2025 pasca acara KONI Award di pendapa Kabupaten Kudus dengan menampilkan tarian dancesport yang erotic menuai kecaman dari berbagai pihak.

Ketua KONI Kudus tidak peka terhadap kondisi sosial masyarakat Kudus yang menjunjung tinggi etika dan nilai-nilai moralitas religius. Pendopo yang sakral seharusnya dijaga marwah dan keagungan tempat yang dibanggakan warga kudus.

“Lebih baik ketua KONI Kudus mengundurkan diri dari jabatanya, bikin gaduh kota Kudus yang dikenal luas dengan sebutan Kota Santri, Kota Suci, jadi jangan kalian kotori dengan pertunjukkan tarian erotis,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan, bahwa kejadian tersebut harus dibuat pelajaran dan diambil hikmahnya, khususnya para penyelenggara kegiatan yang ditempatkan dipendapa Kudus, selain itu pihak pemerintah (Kabag Umum), Setda Kabupaten Kudus juga harus selektif dalam menggelar kegiatan.

“Setiap kegiatan di Pendapa Kudus materi dan rangkaian acara yang akan ditampilkan seharusnya tetap mengedepankan nilai edukasi bagi masyarakat, Kabag Umum ikut bertanggung jawab atas penggunaan pendapa yg ada pertunjukan tarian erotis tersebut,” katanya.

(Elm@n)