KUDUS – jursidnusantara.com Kontingen dari Kecamatan Kaliwungu dalam Festival Karnaval Budaya hari jadi kota Kudus ke-476 menampilkan Tari Gethak Rekso.
Tari Gethak Rekso merupakan kesenian khas Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, berhasil meraih juara tiga dalam ajang karnaval Atma Abhinaya yang digelar di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus pada Sabtu siang, 20 September 2025.
Penampilan yang penuh makna sejarah ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga desa sekaligus wujud nyata pelestarian budaya lokal.

Camat Kaliwungu, Satria Agus Himawan, mengatakan, bahwa dirinya cukup bangga dengan capaian yang diperoleh. Apa yang kami tampilkan dapat diterima oleh masyarakat luas.
“Alhamdulillah, karnaval dari Kecamatan Kaliwungu yang diwakili dari sanggar Ismoyo dengan menampilkan tari Gethak Rekso berhasil meraih juara tiga. Semoga tari ini bisa semakin dikenal luas dan terus dilestarikan,” katanya.
Satria juga menjelaskan, bahwa kontingen Kecamatan Kaliwungu sengaja menampilkan tari Gethak Rekso, karena tarian ini sarat dengan nilai dan sejarah. Tari ini juga merupakan kesenian khas Desa Sidorekso yang berasal dari aktivitas masyarakat sebagai pengrajin gethak atau gerabah sebuah kerajinan berbahan dasar tanah liat.
“Masyarakat Desa Sidorekso dahulu mata pencahariannya membuat Gethak dengan tokoh pelopornya Mbok Darsih,”
Tari Gethak Rekso lahir dari gagasan Kepala Desa (Kades) Sidorekso, Mohammad Arifin. Ia menuturkan tarian itu terinspirasi dari aktivitas masyarakat desa di masa lalu.
“Dulu, mayoritas ibu-ibu di sini sibuk membuat gethak atau gerabah dari tanah liat, sementara suami mereka bekerja sebagai petani. Kini tinggal enam sampai tujuh pengrajin saja, generasi muda banyak yang beralih ke pabrik. Agar tak hilang, saya wujudkan sejarah itu dalam bentuk tari,” ujarnya.
Gerakan tari Gethak Rekso menggambarkan proses pembuatan gerabah, mulai dari pengambilan tanah liat hingga menjadi gethak. Iringan lagu tarian juga menyiratkan do’a bagi kesejahteraan desa.
Tari ini pertama kali dikenalkan untuk umum dan saat kirab budaya Sidorekso Mantu dan Lomba Desa 2025 dan langsung menjadi daya tarik.
“Tarian ini pasti ditampilkan dalam setiap acara desa sebagai identitas budaya Sidorekso,” jelasnya.
Untuk pengembangan, Desa Sidorekso memiliki Sanggar Seni Ismoyo sebagai wadah pelatihan tari dan kesenian lain.
Dalam penampilan dalam karnaval kemarin di ikuti 14 orang dari sanggar seni Ismoyo, penampilan murni digarap oleh potensi desa, tanpa melibatkan pihak luar.
“Kami ingin menunjukkan bahwa dari desa sendiri bisa lahir karya seni yang bernilai tinggi,” terangnya.
Dalam setiap pertunjukan, sosok Punokawan, khususnya Semar, selalu dihadirkan sebagai ikon desa.
Menurutnya, Semar dipilih karena filosofi tokoh pewayangan itu adalah seorang guru dan bapak yang penuh kebijaksanaan, selalu memberi nasihat, dan menjadi simbol pengayom masyarakat.
Ke depan, pihak desa berharap tari Gethak Rekso dapat menjadi warisan budaya yang dikenang lintas generasi.
“Kami berharap generasi muda dan anak cucu nanti tahu bahwa di Desa Sidorekso pernah ada tradisi pembuatan gethak. Lewat tarian ini, cerita itu tidak hilang dan tetep lestari,” pungkasnya.
(Elm@n)












