Desa  

Sedekah Bumi Desa Gamong Gelar Berbagai Kegiatan Mulai Do’a Bersama Hingga Wayang dan Pengajian

KUDUS – jursidnusantara.com Sedekah bumi yang sering disebut apitan merupakan kegiatan yang setiap tahunnya dilaksanakan dibeberapa desa tak terkecuali Pemerintah Desa (Pemdes) Gamong Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, pada Sabtu, 31 Mei 2025.

Kegiatan sedekah bumi dilaksanakan sebagai rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan limpahan rezeki berupa hasil bumi.

Kepala Desa (Kades) Kalirejo Noryanto, mengatakan, ucapan syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT atas limpahan rahmat, Taufiq, dan Hidayah-Nya kita masih diberikan kesehatan sehingga dapat mengikuti gelaran sedekah bumi atau apitan.

“Syukur Alhamdulillah kita masih diberi kesehatan, keselamatan sehingga kita dapat mengikuti kirab budaya dan gelaran wayang kulit,” kata Noryanto pada Sabtu, malam, 31 Mei 2025.

Kegiatan apitan atau sedekah bumi ini merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Pemdes Gamong setiap tahunnya.

“Ini merupakan kegiatan rutin setiap tahun yang diselenggarakan oleh Pemdes Gamong,” terangnya.

Semoga acara pada malam hari ini dapat berjalan dengan aman, lancar dan sukses, mari kita nikmati pagelaran Wayang Kulit dengan dalang Ki Catur Bayu Mustiko dari Kudus, lakon “Semar Maneges” dengan suka cita.

“Kepada warga Desa Gamong dan sekitarnya kami ucapkan ‘Selamat Menikmati, gelaran wayang kulit semalam suntuk,” ujarnya.

Untuk puncak acara sedekah bumi Desa Gamong besuk pada Minggu, 1 Juni 2025 kami selenggarakan pengajian umum berrsma KH. Abdul Mujib Gufron dari kota ukir Jepara. Yang kami tempatkan di Aula Balai Desa Gamong pada pukul 20.00 WIB,” tutup Noryanto.

Mbah Kartopel (76) warga Kayen Pati yang merupakan kakek dari Ki dalang Bayu Mustiko jauh-jauh dari Kayen Pati ingin menyaksikan pagelaran wayang kulit cucunya.

Dirinya berharap seni budaya pewayangan harus di uri-uri dan dilestarikan oleh generasi muda. Oleh karena itu para remaja, Pemuda diharapkan bisa belajar akan seni budaya nenek moyang kita.

“Warisan dan budaya harus tetep lestari, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu melestarikan warisan seni dan budaya leluhur, agar tetep lestari sepanjang masa,” harapnya.

Sementara itu, Mbah Selamet (70) warga Besito, salah satu penonton pagelaran wayang kulit mengatakan, bahwa dirinya senang jika ada pagelaran wayang kulit, karena ini merupakan pelestarian budaya Jawa, budaya asli para leluhur kita.

“Sering nonton pagelaran wayang kulit, setiap ada kabar pagelaran wayang kulit jauh ataupun dekat akan nonton. Saya berharap kegiatan seperti ini tetep terjaga dan di uri-uri,” katanya.

(Tim Red)

error: Content is protected !!