Desa  

Sejarah Singkat Tari Bun Ya Ho, Tarian Khas Desa Megawon Kudus, Pukau Penoton Sedekah Bumi

KUDUS – Jursidnusantara.com Pemerintah Desa (Pemdes) Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus mengadakan kegiatan sedekah bumi sebagai bentuk wujud syukur warga desa kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rezeki berupa hasil bumi.

Nurasag Kepala Desa (Kades) Megawon mengatakan, bahwa kegiatan pada malam hari ini merupakan puncak acara sedekah bumi atau apitan, dimana kegiatan sedekah bumi ini sebagai bentuk syukur kita kepada Allah SWT.

“Ini merupakan bentuk wujud syukur kita kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rezeki berupa hasil bumi,” kata Nurasag pada Senin malam, 19 Mei 2025.

Lebih lanjut Nurasag menambahkan, bahwa kegiatan sedekah bumi merupakan kegiatan tahunan Pemdes Megawon. Dalam acara sedekah bumi 2025 kita ambil tema “Merajut Harmoni, Merawat Bumi, Dan Menjaga Tradisi” artinya adalah apa yang telah diberikan bumi ini wajib kita syukuri dengan Do’a bersama dan bersedekah untuk menjaga bumi agar kita diberi keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan, serta tradisi leluhur kita jaga dan lestarikan.

“Sedekah bumi tahun 2025 kami mengadakan pengajian umum mengundang KH. Ahmad Muwafiq dari Yogyakarta, dengan tema; Merajut Harmoni, Merawat Bumi, Dan Menjaga Tradisi,” ujarnya.

Tari Bun Ya Ho artinya mengajak kebaikan. Tari Bun Ya Ho diciptakan sekira tahun 1900-an oleh KH. Abdul Jalil (Muhammad Tamzis) asal Bumiayu Kebumen kemudian menetap di Desa Megawon dan menikah dengan Hj. Turah.

Ketika itu Desa Megawon minim tentang agama Islam oleh KH. Abdul Jalil (Muhamad Tamzis) dalam berdakwahnya dengan cara mengadakan tari kaum santri yang dipertunjukkan pada hari besar dan hajatan.

Perlu diketahui, bahwa sejak sebelum saya menjadi Kades Megawon tarian ini, tidak lagi ditampilkan, kemudian saya menggali informasi kepada orang-orang yang sepuh (tua) untuk bercerita tari Bun Ya Ho dan ciri khas tari tersebut.

Setelah mendapat informasi dan cerita dari berbagai sumber walaupun tidak sama persis pada zaman KH Abdul Jalil, namun setidaknya sudah mendekati, kemudian kita visualisasi dan modifikasi tari yang kita sesuaikan dengan zaman.

“Sebelum saya menjadi Kades Tari ini belum pernah ditampilkan. Semenjak saya menjadi Kades pada tahun 2007 tari Bun Ya Ho saya menggali informasi berbagai pihak dan mulai latihan, kemudian tahun 2008 tari Bun Ya Ho kita tampilkan dengan sentuhan modernisasi,” jelasnya.

Pada tahun 2014 tari Bun Ya Ho mulai kami tampilkan dalam berbagai kegiatan termasuk dalam HUT Kudus tahun 2017 yang diselenggarakan oleh Pemda Kudus tari Bun Ya Ho mendapat juara 2.

Menurutnya, tradisi dan pelestarian kebudayaan ini merupakan warisan para leluhur, maka kearifan budaya lokal ini, wajib kita lestarikan kepada anak cucu kita.

“Desa Megawon mempunyai dua warisan budaya yakni; “tari Bun Ya Ho dan “tari Getuk Giling” kedua tari tersebut wajib kita uri-uri agar tidak tergerus oleh zaman,” pungkasnya.

Winarni pembina dan pelatih sanggar seni “Ratna Budaya” yang mencetuskan ide kreasi dan koreografi tari Bun Ya Ho mengatakan, dirinya diminta oleh Nurasag Kades Megawon untuk memodernisasi tari Bun Ya Ho yang telah digali dari berbagai narasumber kemudian diceritakan kepada kami.

“Setelah saya dan ibu Lestari pimpinan sanggar seni ratna budaya dikasih tahu dan diceritakan tentang tari Bun Ya Ho, kemudian kami melakukan penelitian dan menggali informasi tambahan dari apa yang telah disampaikan Kades, lalu kami tuangkan dalam koreografi dan kreasi tarian,” katanya.

Winarni juga menjelaskan, untuk ide kreasi dan koreografi agar tercipta kesesuaian lagu yang selaras dengan dengan Irama lagu dan tarian butuh waktu yang cukup lama. Sejak tahun 2007 mulai latihan, namun pelaksanaan penampilan baru dimulai pada tahun 2008.

“Butuh waktu yang cukup lama dalam tercipta terciptanya tari Bun Ya Ho, karena butuh kesesuaian visualisasi dan modernisasi kekinian, untuk itu latihan tari Bun Ya Ho kami mulia tahun 2007, namun untuk penampilan tari di kegiatan baru di mulai tahun 2008,” jelasnya.

Tari Bun Ya Ho pemainya itu ada 14 orang, karena Bun penarinya 6 dan Ya Ho penarinya juga 6 ditambah 2 orang kyai yang berdo’a. Arti dari kata Bun Ya Ho adalah mengajak untuk hal kebaikan. Tari Bun Ya Ho diciptakan sekira tahun 1900-an oleh KH. Abdul Jalil asal Bumiayu Kebumen kemudian menetap di Desa Megawon dan menikah dengan Hj. Turah.

Tari ini menceritakan tentang sebuah desa yang penduduknya minim tentang agama Islam, kemudian oleh KH. Abdul Jalil dalam berdakwahnya Islam dengan cara mengadakan tari kaum santri yang dipertunjukkan pada hari besar dan hajatan.

“Kami berharap tari Bun Ya Ho ini bisa menjadi sebuah seni tari yang dapat diterima oleh semua masyarakat, baik ditingkat lokal Desa Megawon Kudus, bahkan hingga tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya.

Sementara itu, Kholifah Putri Handayani penari Bun Ya Ho mengatakan, saya senang bisa ikut terlibat dan bisa menampilkan tari khas Desa Megawon. Setiap tahun kami tampil dalam acara sedekah bumi yang diselenggarakan oleh Pemdes Megawon.

“Kami senang bisa terlibat dalam penampilan tari Bun Ya Ho sejak tahun 2008 hingga sekarang ini, cuma ditahun 2020 hingga tahun 2022 kita tampil karena ada pandemi Covid-19. Kami selalu diminta untuk bisa berpartisipasi dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Pemdes Megawon,” katanya.

Dirinya tidak menyangka bisa menari seapik ini. Saya ikut terlibat tari Bun Ya Ho sejak tahun 2008 hingga sekarang bisa diterima oleh masyakarat yang melihat penampilannya selama ini.

Sementara itu, Gwenesha Zia Ayasha mengungkapkan, bahwa dirinya sangat senang bisa menampilkan tarian ini, karena ini merupakan tari khas Desa Megawon.

“Senang dapat menampilkan tari Bun Ya Ho karena ini merupakan khas desa saya,” ujarnya.

Saya juga bangga kalau desa saya mempunyai tarian yang apik dan menarik, sehingga penampilan kami dapat diterima oleh masyarakat luas.

“Saya bangga bisa memerkan warisan budaya lokal ‘Tari Bun Ya Ho’ ciri khas Desa Megawon yang sarat akan makna,” pungkasnya.

Sri Sunarti salah satu warga Megawon yang menyaksikan penampilan tari mengatakan, saya merasa takjub dengan penampilan para penari. Penampilan penari senada dengan gerakan senada. Gerakannya cukup sederhana tak serumit tarian Jawa pada umumnya. Payung, kendi, dan keris menjadi pelengkap tarian.

(Tim Redaksi)