Berita  

Ahmad Luthfi: Tugas Kades Ngurusi Tukang Ngarit, Randa dan Jangan Ada Jarak Dengan Warganya

Oplus_131072

SEMARANG – jursidnusantara.com Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ahmad Luthfi menggelar sekolah Antikorupsi yang wajib di ikuti oleh 7.810 Kepala Desa (Kades) Se-Jateng di GOR Indoor Kompleks Stadion Jatidiri Kota Semarang Pada Selasa, 29 April 2025.

Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi Dalam Memberikan Paparan Disekolah Anti Korupsi

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menuntut para Kades menjadi problem solver atas persoalan yang dialami warga dan lingkungannya. Secara blak-blakan, ia meminta Kades ngurusi tukang ngarit (pencari rumput), rondo (janda) hingga saluran air yang bermasalah ke lahan sawah.

Tak boleh ada jarak antara Kades dengan warganya. Kedekatan pemimpin dengan yang dipimpin akan menjadi sarana mengetahui problem dan menyelesaikannya. Hal itu sejalan dengan tagline ‘Ngopeni dan Nglakoni Desa Tanpo Korupsi’ Jawa Tengah.

“Di desa yang tukang ngarit sapa (siapa)? Harus tahu. Sing menggembala kambing sapa? Ada wargane yang janda dan harus disantuni harus tahu, irigasi macet harus tahu. Lalu diberikan jalan keluar itu namanya ngopeni nglakoni,” kata Ahmad Luthfi.

Selanjutnya, dalam membangun desa Pemprov Jateng memperlakukan semua desa secara sama dan adil. Salah staunya dengan memberikan bantuan keuangan se-Jawa Tengah yang jumlahnya sebesar Rp. 1,2 triliun pada 2025.

Gubernur Jateng Dalam Pengarahan Sekolah Antikorupsi Untuk Kades

Untuk itu, tugas berikutnya Kades harus bersegera mungkin menggerakkan potensi-potensi desanya. Mulai dari desa wisata, petani zilenial dan milenial, menggarap produk unggulan desa, mengawal lumbung desa, koperasi merah putih, hingga pelayanan kesehatan warga desa.

Dalam pembangunan, Ahmad Luthfi menekankan agar desa menginduk di masing-masing kecamatan. Lantaran Pemprov Jateng telah meluncurkan program Kecamatan Berdaya. Program yang berada di dalamnya sudah linier dengan program-program dari pusat, Pemprov dan Kabupaten/Kota.

“Contoh, Jateng merupakan lumbung pangan nasional. Lahan pertanian itu tersebar di desa. Maka desa harus mampu menganalisa dampaknya seperti infrastrukturnya, termasuk gorong-gorong atau saluran airnya,” kata Luthfi yang memberikan paparan dengan berjalan di sekeliling ribuan kades.

“Saluran air sing mbangun sinten?” tanya mantan Kapolda Jateng tersebut pada salah satu Kades.

“Sing mbangun pemerintah desa, dana njaluk pemerintah,” jawab si Kades yang langsung disambut tawa peserta di sekelilingnya.

Ahmad Luthfi, juga langsung memerintahkan Kepala Dinas PU Bina Marga, Hanung Triyono untuk melakukan finalisasi kondisi gorong-gorong atau saluran air sekunder di Jateng guna mendukung program swasembada pangan pada 2026.

Untuk mendukung kinerja Kades saat membangun wilayah, Ahmad Luthfi telah menginstruksikan, mengefektifkan kembali tiga pilar pemerintahan desa. Meliputi Kades/Lurah, Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) dan Bintara Pembina Desa (Babinsa).

“Kades harus didampingi dalam rangka ciptaan stabilitas desa. Pulang dari ini (Sekolah Anti Korupsi), Tiga Pilar efektifkan kembali. Tidak boleh kades sedikit-sedikit pidana,” jelasnya.

Ahmad Luthfi juga mendorong program pembangunan desa di Jawa Tengah agar sesuai dengan koridor yang berlaku melalui gelaran Sekolah Antikorupsi.

 

(El-M@n)