Berita  

Tradisi Masjidan, Budaya Lokal Dukuh Jetak Kedungdowo Kudus, Miniatur Tradisi Dandangan Kudus

KUDUS – jursidnusantara.com Tradisi Mapak Siji Ramadhan (Masjidan) yang digelar pada hari sebelum melaksanakan ibadah puasa bulan Ramadhan yang digelar oleh Masjid Besar Darussalam, Dukuh Jetak, Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus memiliki tradisi khusus jelang bulan Suci Ramadan.

Tradisi tersebut telah dikenal sejak dahulu dan merupakan sebuah budaya kearifan lokal yang selalu diperingati setiap tahunnya yang dikenal dengan sebutan Mapak Tanggal Siji Ramadan (Masjidan). Tradisi ini mengenalkan budaya kearifan lokal dengan ragam kegiatan Islami dengan menggandeng UMKM lokal sebagai miniatur Dandangan Kudus.

Tampak Hadir dalam acara tersebut segenap pengurus Ta’mir Masjid Besar Darussalam Dukuh Jetak, Desa Kedungduwo diantaranya KH. Zainal Faqih, KH. Mahmud, H. Moh. Ahlis, KH. Ali Ihsan, H. Munthohar, Ketua Ta’mir Masjid Kyai Muhibbin, Segenap Pengurus Remaja Masjid, Pengurus Jam’iyyah Hidayatusy Syubban, Paris Putri, dan segenap warga sekitar.

Ketua Ta’mir Masjid Besar Darussalam Kyai Muhibbin dalam sambutannya mengatakan, tradisi Masjidan digelar pada hari kesatu atau kedua sebelum melaksanakan ibadah puasa pada Bulan Ramadhan.

Zaman dahulu tradisi ini di mulai dengan acara tradisi tabuh bedug dandangan yang dilakukan oleh Ta’mir dan masyarakat Dukuh Jetak Kedungduwo setelah ba’dal Ashar dan masyarakat sekitar berbondong-bondong datang ke masjid untuk sekedar menyaksikan tabuh bedug atau menabuh bedug dandang tersebut.

Karena banyak anak-anak, remaja, orang tua baik laki-laki maupun perempuan yang datang ke masjid, maka berdatangan pula para pedagang untuk berjualan disekitar halaman masjid.

“Jadi tradisi Masjidan ini, menjadi suatu bentuk tradisi yang sudah ada sejak dahulu yang merupakan hasil adopsi yang diambil dari kebudayaan yang ditinggalkan oleh Sunan Kudus dan kemudian diadopsi oleh masyarakat Dukuh Jetak Kedungdowo dengan versi yang berbeda tanpa menghilangkan unsur kebudayaan sebelumnya,” kata Kyai Muhibbin pada Rabu, 26 Februari 2025 malam.

Kebudayaan sebelumnya yang dimaksud dapat dilihat dalam serangkaian acaranya yang masih terbilang sama dengan yang dilakukan oleh masyarakat terdahulu yakni budaya tabuh bedug dandang, budaya ziarah makam hingga acara bazar UMKM yang diperkenalkan merupakan adopsi dari budaya yang terdahulu.

“Bedanya dahulu dengan sekarang cuma ada penambahan kegiatan kekinian kegiatan dilaksanakan acara Masjidan sering pada malam hari, kalau dahulu dilaksanakan pada sore hari setelah Ashar,” terangnya.

Lebih lanjut Muhibbin menjelaskan, bahwa di tahun 2023 kita pernah mengadakan acara ba’dal Ashar, dan semua jajan yang dibeli juga Geratis, karena Ta’mir Masjid memberikan kupon kepada warga yang dapat ditukar dengan jajan yang di inginkan.

Pada acara Masjidan kali ini, kita meriahkan dengan mendatangkan Group Rebana Jam’iyyah Addufuf Annida Mu’allimat Kudus.

“Itulah sedikit gambaran dari tradisi Masjidan yang diselenggarakan oleh Ta’mir Masjid Besar Darussalam sedikit perbedaan zaman dahulu dengan sekarang,” Pungkasnya.

Sementara itu, Pembina Ta’mir Masjid Darussalam, KH. Ali Ihsan mengatakan, memang benar apa yang disampaikan ketua Ta’mir, bahwa tradisi ini sudah diperingati turun temurun. Masyarakat dukuh Jetak Kedungdowo, biasa menyebutnya dengan istilah Masjidan.

Dirinya menyebut, tradisi ini merupakan miniatur tradisi Dandangan. Dimeriahkan dengan beragam bazar murah dengan menggandeng Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM) lokal.

“Tahun ini Alhamdulillah bisa menggelar kembali tradisi Masjidan “Mapak Siji Ramadhan secara meriah, dengan menggandeng pelaku UMKM Lokal alias tonggo dewe,” katanya.

Terlihat antusias masyarakat hingga sekarang pun masih tinggi, sehingga tradisi turun-temurun ini masih tetap lestari dan terjaga dengan baik.

Tujuan dari tradisi ini pun juga sama yaitu bertujuan untuk memberitahu kepada masyarakat bahwa esok hari telah masuk pada bulan suci Ramadhan.

Hal ini merupakan bagian dari nguri-uri budaya sebuah tradisi merupakan wujud realisasi rasa syukur atas datangnya bulan suci Ramadhan.

Pihaknya juga memberikan kesempatan kepada para pelaku UMKM lokal untuk berdagang menjajakan jajanan tradisional masing-masing.

Mas Ali panggilan akrab KH. Ali Ihsan yang juga sekaligus DPRD Kudus Fraksi PKB berharap, tradisi semacam ini akan terus terjaga secara baik oleh para remaja sebagai generasi penerus bangsa.

Sehingga warisan budaya daerah tidak terlekang oleh waktu dan zaman, karena ini merupakan warisan budaya yang baik perlu untuk dilestarikan selamanya.

“Nguri-nguri tradisi ini juga dalam rangka memakmurkan masjid sekaligus menjaga warisan tradisi para tokoh agama Islam pendahulu kita,” jelasnya.

“Kami berkewajiban merawat tradisi kearifan lokal yang dimiliki masing-masing daerah,” pungkasnya.

Kemudian acara dibuka dengan tabuh bedug KH Ali Ihsan dengan mengucapkan Surat Al-fatihah dilanjut tabuh Bedug dan kembang Api. Kemudian dilanjut dengan penampilan Group Rebana Jam’iyyah Addufuf Annida Mu’allimat Kudus.

(Elm@n)