KUDUS – jursidnusantara.com Kontingen dari SMP 2 Kudus yang menampilkan Tari Prayoganing Tirto Salamun sukses memukau ribuan penonoton dalam Festival Kirab Budaya Hari Jadi Kota Kudus yang Ke-476.
Gelaran Festival Karnaval Budaya tersebut dipusatkan di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus terselenggara dengan meriah pada Sabtu siang, 20 September 2025.
Ada 22 kontingen yang ikut dalam karnaval budaya pada kali ini, meliputi 9 kontingen pelajar dari SMP, 1 SMA, 9 kontingen Kecamatan, dan 2 Kontingen umum serta 1 komunitas barongan Kudus.

Kepala Sekolah SMP 2 Kudus, In Setyorini, S.Pd., M.Pd., mengatakan, Penampilan 48 peserta dari siswa dan siswi kelas VII, VIII dan IX tersebut menampilkan seni Tari Prayoganing Tirto Salamun.
“Seni Tari Prayoganing Tirto Salamun merupakan perpaduan seni drama dan tari yang membuat ribuan penonoton yang hadir terpukau akan penampilan peserta didik kami,” katanya.
SMP 2 Kudus sengaja menampilkan Tari Prayoganing Tirto Salamun tersebut mengambil tradisi rebo wekasan dari Desa Jepang Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.
Iin panggilan akrab In Setyorini juga menjelaskan, bahwa Tradisi “Prayoganing Tirto Salamun” atau Kirab Rebo Wekasan di Desa Jepang, Mejobo, adalah ritual tahunan pada Rabu terakhir bulan Safar di mana warga mengarak gentong berisi Air Salamun dari masjid untuk memohon keselamatan dan menolak bala.
Air dari sumur masjid, yang dipercaya peninggalan Sunan Kudus, dido’akan lalu dibagikan kepada ribuan warga sebagai wujud berkah dan perlindungan dari musibah.
“Air Salamun itu berasal dari sumur di Masjid Wali Al-Ma’mur, yang memiliki makna keselamatan dan keberkahan, diambil khusus untuk ritual ini. Tradisi ini dikembangkan oleh tokoh ulama, Syaid Doro Ali Al-Idrus, sekitar tahun 1900-an sebagai bagian dari metode dakwah untuk menyebarkan agama Islam,” jelasnya.
Tari Prayoganing Tirto Salamun hadir tidak hanya sebagai hiburan, sebagai hiburan tetapi juga sebagai upaya melestarikan budaya dan menjaga identitas lokal masyarakat Desa Jepang, agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi penerus.
“Penampilan Tari Prayoganing Tirto Salamun ini selain untuk memeriahkan Festival Kirab Budaya dalam rangka Hari Jadi Kudus ke 476 juga untuk menghibur masyarakat Kabupaten Kudus,” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu peserta dari SMP 2 Kudus, Muhammad Malvin Sadewa (kelas 9g) mengungkapkan perasaanya yang begitu senang sekali dapat selalu dilibatkan dalam setiap penampilan dalam Festival Kirab Budaya dalam peringatan hari jadi kota Kudus.
“Senang sekali bisa ber-performance dalam setiap karnaval baru jadi kota Kudus. Saya sudah tiga tahun ini, di ikutkan pihak sekolah,” ujarnya.
Kami berharap kegiatan seperti ini dilaksanakan pada malam hari, karena suasananya enak dan adem. Kami berlatih dalam penampilan tari ini kurang lebih 3 hingga 4 Minggu.
“Seingat saya pada tahun 2023 dan 2024 pelaksaanya pada malam hari. Latihan kurang lebih satu bulanan setelah jam pelajaran,” tukasnya.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris dalam sambutannya, mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan momentum hari jadi kota Kudus ini sebagai penguat inspirasi, semangat inovasi, sekaligus menjaga teransi. Tema Hari Jadi tahun ini adalah “Harmoni Dalam Korelasi”.
“Harmoni Dalam Korelasi, artinya kita boleh beda, tetapi tetap menjaga persatuan dan kesatuan. Toleransi umat beragama, umat berbudaya, dan manusia,” ujarnya.
Pihaknya juga meminta dukungan kepada seluruh masyarakat untuk menjaga Kudus agar tetap damai dan aman. Perayaan semacam ini, merupakan upaya bersama untuk menggerakkan roda perekonomian.
“Semoga di hari baik ini, kita bisa menikmati karnaval budaya dengan damai. Ini merupakan wujud pelestarian kearifan budaya lokal, untuk menjaga warisan leluluh kita dahulu,” terangnya.
Sam’ani juga berpesan kepada masyarakat yang hadir jangan tinggalkan sampah, tapi tinggalkanlah kenangan indah. Kepada para peserta yang rela berpanas-panasan, saya ucapkan terima kasih,” pungkasnya.
(Elm@n)












