Tradisi Tabuh Bedug Blandrangan di Menara Kudus Sebagai Tanda Awal Bulan Suci Ramadhan

KUDUS – jursidnusantara.com Nabuh Beduk Blandrangan merupakan tradisi yang menandai awal bulan suci Ramadhan keesokan harinya. Tidak ada yang tahu persis sejak kapan tradisi beduk tersebut dimulai. Akan tetapi dipercaya sebagai budaya dan tradisi dari leluhur yang dilakukan zaman Sunan Kudus.

Ahmad Arinal Haq yang merupakan salah satu pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) mengatakan, bahwa penabuh bedug Blandrangan merupakan upaya untuk melestarikan tradisi yang dimulai oleh kanjeng Sunan Kudus.

Perayaan Dandangan atau tradisi tabuh bedug bernama blandrangan. Tradisi blandrangan ini menandai bahwa besok adalah 1 Ramadhan.

“Blandrangan itu sudah muncul sejak lama sebagai pertanda jika keesokan harinya sudah datang bulan suci Ramadhan, namun pada perkembangannya tradisi tersebut dikemas lebih menarik,” kata Ahmad Arinal Haq Jum’at, 28 Februari 2025 sore.

Lebih lanjut Arinal Haq menambahkan, bahwa Blandrangan ini berbeda dengan dandangan yang dikenalkan oleh Pemerintah Kabupaten. Blandrangan menandai jika besok sudah pasti 1 Ramadhan, sedangkan dandangan hanya istilah nabuh bedug yang berbunyi dang-dang.

“Jadi ini tidak ada perubahan, bedug dandang ini tradisi di luar komplek kita, masyarakat yang menyambut menyongsong satu Ramadhan. Tradisi ini (dandangan) ditandai dengan penabuh, blandrangan ini istilah kalau sudah ada kepastian besok Ramadhan, besuk tanggal 1 Sywal itu namanya tabuh Beduk Blandrangan. Yang di luar menabuh beduk itu dandangan,” imbuhnya.

Dia menjelaskan ada sejarah terkait tradisi menabuh beduk di atas Menara Kudus. Konon hal tersebut telah dilakukan sejak zaman Sunan Kudus menabuh Beduk Blandrangan untuk memberitahu kepada masyarakat jika besok merupakan 1 Ramadhan. Saat itu pula masyarakat berkerumun untuk menunggu kepastian awal bulan Ramadhan.

“Jadi awalnya Kanjeng Sunan Kudus dulu menabuh Beduk di Menara Kudus, masyarakat pada menunggu, kapan sih 1 Ramadhan? Maka kerumunan orang muncul kemudian muncul inisiatif butuh makanan, minum, dan sebagainya itu, dulunya yang jualan hanya sekitar menara, terus kemudian berubah menjadi pasar malam, disamping itu juga ada makanan khas dalam rangka menyambut awal Ramadhan tersebut”, jelasnya.

Selain untuk mengumandangkan adzan, Menara Kudus digunakan untuk mengumumkan agenda penting keagamaan. Seperti, datangnya bulan suci Ramadhan, datangnya bulan Syawal dan lain sebaginya.

“Ketika beduk Blandrangan ditabuh maka berkumpullah masyarakat, kemudian baru Sunan Kudus menyampaikan kapan dimulainya ibadah puasa atau kapan menjalankan sholat Ied,” pungkasnya.

Sementara itu, Siti Barokah dan Yunia Inayah warga Kauman Menara Kudus yang ikut rewang dalam acara Blandrangan yang bertugas membagikan makan bagi para ziarah warga sekitar Menara Kudus mengatakan, dirinya senang dan bahagia bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan di Menara Kudus.

“Kami sering ikut rewang dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Menara Kudus, tadi yang rewang kurang lebih ada 30 orang, laki-laki maupun perempuan untuk membantu menyajikan makanan mulai dari Kerak Ketan, Puli, Apem, Soto, Pecel Meniran, Es Teh, Teh Hangat dan sebagainya.

Sementara itu, Sutejo yang merupakan warga sekitar menara Kudus merasa senang dengan adanya kegiatan tabuh Blandrangan, karena warga sekitar masjid Menara Kudus pada H-1 diajak ziarah bersama dengan tokoh agama dari Yayasan Menara Kudus, kemudian disajikan menu makanan Geratis berbagai macam menu.

“Alhamdulilah bisa ketemu bulan Suci Ramadhan, kita sambut dengan hati yang riang gembira, tadi ikut acara Blandrangan beserta keluarga. Disini semuanya makanan Geratis dan banyak macamnya tinggal pilih sesuai dengan selera.

(Elm@n)

error: Content is protected !!