Berita  

Peran Penting Mahasiswa Dalam Menyikapi Problematika Lingkungan Di Kabupaten Kudus

KUDUS – jursidnusantara.com Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) menggelar diskusi ekologi atau lingkungan tentang persoalan sampah, dimana sampah merupakan hal yang harus segera diatasi oleh semua kalangan harus dapat bekerja sama untuk mengatasi persoalan sampah.

Peran mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change) sangat dibutuhkan. Karena Mahasiswa diharapkan membawa pergerakan perubahan ke arah yang lebih baik.

Diskusi ekologi tersebut mengambil tema “Peran Mahasiswa Dalam Menyikapi Problematika Lingkungan Di Kudus yang berlangsung di Kedung Coffe 1 Jl. Lamboo, Singocandi Gedangsewu Singocandi, Kecamatan Kota Kudus pada Sabtu, 14 September 2024 Pagi.

Rochim Sutopo, S.T., M.T DPRD Kudus terpilih 2024-2029 yang mendapat kesempatan pertama menyampaikan materi mengatakan, problematika lingkungan di Kudus dalam hal ini mengenai spesifik persoalan sampah.

Dimana sampah merupakan salah satu permasalahan terbesar yang ada di Indonesia yang masih sangat sulit di atasi, bahkan pada tahun 2021 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat, Indonesia menghasilkan sebanyak 21,88 juta ton sampah.

Diakuinya memang permasalahan sampah di Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Fakta ini dikuatkan oleh data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), yang menyatakan bahwa 3,2 juta ton sampah yang dibuang ke laut adalah sampah plastik. Kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik.

Sementara di Kudus timbunan Sampah harian mencapai 440,89 ton tahun 2020 lalu menurut Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN). Sampah organik di Kudus mencapai 430.56 m kubik perhari dengan 2020 menurut Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF).

“Penanganan sampah harus tuntas, jangan sampai buat gunungan sampah di TPA. Pemda Kudus harus serius menangani sampah, dengan cara diolah, bukan ditimbun,” terangnya.

Politikus PAN (periode 2024-2029) itu menilai dalam beberapa tahun terakhir di Kudus belum ada perencanaan program yang spesifik ditujukan untuk menangani sampah. Termasuk program pemerintah daerah yang telah disusun untuk tahun anggaran 2024.

Sampah harus bisa dijadikan nilai ekonomis untuk pendapatan daerah. Di 2024 ini belum ada program penanganan sampah, masih hanya sebatas sosialisasi karakter saja, sedangkan pengadaan alat dan perluasan TPA belum ada.

Padahal pengadaan alat insinerator alat pembakar sampah yang ramah lingkungan dinilai bagian dari upaya untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA.

Supaya sampah-sampah yang diproduksi masyarakat tidak hanya ditimbun di TPA yang nantinya akan penuh hingga over kapasitas. Butuh solusi lain yang harus dimulai sejak saat ini untuk menekan produksi sampah, sekaligus mengurangi volume sampah yang dibawa ke TPA.

“Pemda belum serius dalam penanganan sampah. Misalnya, pembelian alat pengolahan sampah ini penting, supaya sampah tidak hanya ditimbun dan ditimbun,” tegasnya.

Soal sampah ini tidak boleh dihiraukan, sudah banyak daerah yang berhasil mengelola sampahnya, bisa kita contoh. Penanganan sampah, permukiman kumuh, dan isu lingkungan hijau harus ditingkatkan lagi. Biar semuanya jalan, tidak fokus pada satu tujuan saja.

“Skema pengolahan sampah yang terintegrasi dimulai dari upaya penataan dan pemanfaatan Sarpras yang ada, mulai dari Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang menggunakan sistem 3R (reduce, reuse dan recycle), juga menggandeng pihak-pihak terkait dan perusahaan seperti Djarum Foundation Peduli Lingkungan untuk membantu penanganan sampah di Kudus,” ujarnya.

Kebijakan Pemerintah Daerah Terhadap lingkungan dan Perda Provinsi Jawa Tengah No. 4 tahun 2023 seharusnya dilaksanakan sesuai dengan regulasinya.

Kami berharap mahasiswa sebagai generasi muda Indonesia memang kita peduli dan menjaga kelestarian lingkungan, hal ini bukan hanya berdampak pada diri sendiri namun juga orang banyak.

Pemateri kedua dari Djarum Foundation Peduli Lingkungan Redy J Prasetyo menjelaskan, bahea Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) meluncurkan Program Kudus Asik bersama Pemkab Kudus pada bulan Maret 2024 lalu.

Program ini sebagai upaya membantu Pemda Kudus untuk meningkatkan capaian kota yang bersih dan terjaga lewat pengelolaan sampah berkelanjutan dan komitmen pemerintah Kabupaten Kudus menuju zero waste, zero emission (ZWZE) 2040.

Kudus Asik menggalang aksi nyata berupa mengumpulkan sampah organik yang berasal dari 312 mitra Djarum Peduli Lingkungan yang terdiri dari catering dan rumah makan, hotel, fasilitas kesehatan dan pendidikan, panti asuhan dan pondok pesantren, mitra korporasi, pasar tradisional, dan masyarakat desa di Kabupaten Kudus.

Sampah organik tersebut selanjutnya diolah di pusat pengomposan berkapasitas 50 ton di Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) BLDF di Kabupaten Kudus.

“Saat ini di tengah tantangan dunia menghadapi perubahan iklim, BLDF melebarkan sayap dengan program tata kelola sampah melalui pengurangan jumlah sampah organik di daerah hulu. Kami percaya, inisiatif pengelolaan sampah organik ini, akan berdampak signifikan pada penurunan emisi karbon,” ujarnya.

Progam BLDF lingkungan yang nyata bisa kita lihat pohon trembesi sepanjang jalan Demak-semarang, penghijauan pegunungan Patiayam yang luasnya ada sekitar 2.900 ha dan masih banyak yang lainnya.

Ia berpesan kepada para mahasiswa supaya menjaga lingkungan lebih baik dengan cara membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah organik dan non organik, saling edukasi diri dan dan saling mengingatkan.

Saya ambil contoh di Negara Singapura itu negaranya bersih bahkan mau buang sampah itu cari tempat sampah sulit karena disana buang sampah sembarangan bisa didenda,” terangnya.

Harapan nya dari edukasi kali ini, peserta bisa mensosialisasikan kepada masyarakat terutama lingkungan sekitar agar bisa menjaga kebersihan dari sampah dan bisa mengelola sampah dengan baik.

Agar lebih gayeng acara dilanjut dengan diskusi yang dipandu oleh moderator Noor Rokhim, S.Ag., ketua PC IMM Kudus 2022-2023.

(Elm@n)