KUDUS – jursidnusantara.com Pengurus Daerah (PD) Perkumpulan Asosiasi Museum Indonesia Provinsi Jawa Tengah Wilayah II yang meliputi wilayah Kabupaten Pati, Kudus, Jepara, Demak Blora, Rembang dan Grobogan (Pakudjembaran). Pada hari Kamis, 18 Juli 2024 mengadakan kegiatan Fokus Group Discussion (FGD) dalam memajukan dan pelestarian jagar budaya di wilayah Pakudjembaran.

Dalam gelaran tersebut sekaligus diadakan peresmian kantor sekretariat Perkumpulan Asosiasi Museum Indonesia Provinsi Jawa Tengah Wilayah II Pakudjembaran yang terletak di kawasan perusahaan Jenang Mubarok dan Museum Jenang Gusjigang yang terletak di Jl. Sunan Muria 33 A Kudus Jawa Tengah.
Sancaka Dwi Supani ketua Pengurus Daerah Perkumpulan Asosiasi Museum Indonesia (PD AMI) Wilayah II Pakudjembaran mengatakan, agenda kegiatan pada hari ini adalah peresmian kantor sekretariat, dan Focus Group Discussion (FGD) atau diskusi kelompok terarah .
Dalam gelaran acara ini pula kita selingi penampilan tari tentang kisah Situs Patiayam Desa Terban Kecamatan Jekulo Kudus. Dilakukan lima penari remaja putri dari sanggar tari Bugenvil pimpinan Etik. Dan diakhiri kunjungan ke Museum Jenang GusJigang.

“Perlu diketahui, bahwa gelaran kegiatan ini didukung penuh oleh sanggar Tari Bougenville pimpinan ibu Etik, Setyo Budi Wibowo, anggota DPRD I Jateng, H. Muhammad Hilmy Dirut Mubarok Food yang sekaligus sebagai pembina,” katanya.
Sementara itu, H. Muhammad Hilmy Dirut Mubarokfood mengatakan, ucapan terimakasih atas terselenggaranya kegiatan ini ditempat Aula Jenang Mubarok.
Terima kasih juga untuk kantor sekretariat PD Asosiasi Museum Indonesia wilayah II Pakudjembaran yang ditempatkan disini. Saya juga dimasukkan pengurus sebagai pembina, hal ini merupakan amanah dan kepercayaan yang luar biasa bagi saya.
“Semoga PD AMI wilayah Jawa Tengah II Pakudjembaran semakin berkembang dan maju,” terangnya.
Perlu diketahui, bahwa Museum Jenang GusJigang baru berusia 7 tahun. Namun keberadaan museum ini mampu menarik banyak minat wisatawan berkunjung ke museum, baik wisatawan dalam negeri maupun manca negara. Penataan ruangan, diorama, miniatur menara kudus, rumah kapal, proses produksi jenang, miniatur Ka’bah, sejarah dan gambar para tokoh NU – Muhammadiyah, berbagai Kaligrafi hingga ruang untuk belanja khususnya hasil produksi perusahaan jenang Mubarok, berhasil menyedot puluhan hingga ratusan pengunjung.
Sementara itu Dr. Yahdi Zaim dari Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam diskusi mengatakan, museum Situs Patiayam yang berada sekitar 10 kilometer timur Museum Jenang juga tidak kalah menarik. Situs ini berada di Bukit Patiayam merupakan bagian dari Gunung Muria. Luasnya mencapai 2.902,2 hektar, yang tersebar di wilayah Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus ( 1.573,5 hektar) dan di wilayah Kecamatan Margorejo, Gembong, Tlogowungu Kabupaten Pati, 1.328,7 hektar Merupakan kawasan milik Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pati.
Ia menambahkan secara morfologi merupakan kubah (dome) dengan puncak ketinggian 350 meter di atas permukaan laut. Batuannya berumur sekitar 1 juta hingga 700.000 tahun atau pada masa plestosen yang mengandung fosil vertebrata dan manusia purba ( homo erectus)
Yahdi Zaim menjelaskan di tahun 1979, menemukan sebuah gigi prageraham bawah dan tujuh buah pecahan tengkorak manusia. Selain itu ditemukan pula sejumlah tulang belulang binatang purba. Antara lain Stegodon trigono chepalus (sejenis gajah purba), Elephas sp (juga jenis gajah), Cervus zwaani dan Cervus lydekkeri martin (sejenis kera), Rhinoceros sondaicus (sejenis badak), Susbrachygnatus dubvis (babi), Felis sp (harimau), Bos bubalus palaeokerabau (sejenis kerbau), banteng palaeo sondaicus (sejenis banteng) dan Cocrodillus sp (buaya).
Setelah itu Tim Pusat Penelitian dan Penggalian Benda Purbakala Jogja, pada bulan April 1981, menemukan dua fosil gading gajah berukuran panjang 2,5 meter, berdiameter 15 centimeter di Bukit Patiayam wilayah Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati.
Akhir November 1982, Sukarmin, warga Desa Terban Kecamatan Jekulo (Kudus) juga menemukan dua fosil gading gajah di Gunung Nangka (bagian dari Bukit Patiayam), berukuran 3,17 meter dan 1,44 meter. Sampai sekarang masih disimpan di Museum Ronggowarsito Semarang.
Sementara itu, Sutikno Kepala Seksi Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Kudus, pada saat yang hampir bersamaan juga menemukan fosil gading gajah di petak 22 Gunung Slumprit (bagian dari bukit Patiayam).
Setelah hampir 23 tahun tidak ada penelitian dan penggalian dari lembaga resmi, pada tanggal 16-17 November 2005, Tim Balai Arkeologi (Balar) Jogja, yang terdiri dari Harry Widianto, Muhamad Hidayat dan Baskoro Daru Tjahjono ke Bukit Patiayam yang kemudian dikenal sebagai Situs Patiayam.
Inilah awal Situs Patiayam secara resmi ditetapkan sebagai benda cagar budaya (BCB) pada 22 September 2005, berdasarkan surat keputusan Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Provinsi Jawa Tengah nomor 988/102.SP/BP3/P.IX/2005.
Tim menemukan fragmen-fragmen fosil vertebrata (menurut kamus umum bahasa Indonesia, artinya binatang bertulang belakang)) yang diendapkan dalam lapisan tufa konglomeratan.
Harry Harry Widianto menambahkan, selama dua hari terjun ke lapangan, Tim Balar menyimpulkan, fosil-fosil yang ditemukan di Situs Patiayam menunjukkan rentang waktu 1 juta hingga 500.000 tahun lalu. “Mereka, manusia dan binatangnya hidup di daerah kaki Gunung Muria, pada suatu lingkungan purba yang sangat intensif dikenai aktvitas volkanik Gunung Muria. Suatu persoalan yang belum terjawab adalah bagaimanakah bentuk budaya dari manusia purba (homo erectus), karena hingga saat ini belum ditemukan hasil budayanya.
Saya teringat pada Sabtu, (25/2/2006) dalam rangka memperingati HUT Persatuan Wartawan Indonesia dan Hari Pers Nasional , PWI Pokja Kudus bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Kudus dan Puslitbang Arkeologi Nasional Jakarta menggelar seminar bertajuk Pengembangan Sumberdaya Arkeologi Situs Patiayam
Pembicaranya, antara lain : Dr Yahdi Zaim yang mengetengahkan “Patiayam Dalam Konteks Lingkungan Purba di Pulau Jawa pada kala Plestosen”, Dr Harry Widianto ( Kehidupan Manusia , Fauna dan Plora pada kala Plestosen), Dr Tony Djubianto dari Puslitbang Arkeologi ( Standar Penelitian Minimal dalam Penyelenggaraan Penelitian Arkeologi) dan Direktur Purbakala Dr Soeroso mengetengahkan Kebijakan Pelestarian dan Pemanfaatan Sumberdaya Arkeologi).
Seusai seminar, Tim Balar Jogja, bersama Puslitbang Arkeologi Nasional dan Geologi ITB Bandung diterjunkan ke Situs Patiayam, sejak 24 April – 5 Mei 2006, dan hasilnya dipaparkan juru bicara tim Harry Widianto di hadapan Bupati Kudus, M. Tamzil.
Menurut Harry Widianto, distribusi temuan lebih teridentifikasi pada bagian selatan jelajah Gunung Slumprit dan sekitarnya yang merupakan daerah paling padat temuan. Formasi Slumprit merupakan satuan batuan utama mengandung fosil yang berumur antara 500.000 hingga satu juta tahun lalu.
(Elm@n)












