Ratusan Warga Berebut Nasi Berkah Dalam Kirab Budaya Sang Maestro Rumah Adat Kudus Joglo Pencu

KUDUS – jursidnusantara.com Puncak acara dalam rangka peringatan haul Mbah Rogo Moyo adalah Kirab Budaya. Tampak ribuan warga Desa Kaliwungu dan sekitarnya mengikuti acara kirab budaya Haul Mbah Rogo Moyo di Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus pada Jumat, 19 Juli 2024 siang.

H. Noor Yadi, M.Pd., mewakili panitia dan ketua Pengurus Pemangku Punden dan Belik (P3B) Mbah Rogo Moyo Desa Kaliwungu mengatakan, kegiatan peringatan haul Mbah Rogo Moyo merupakan progam tahunan.

Kami ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah membantu kegiatan ini.

Peringatan haul Mbah Rogo Moyo sudah berlangsung sejak tahun 2010. Tujuannya mengingat sang cikal bakal sebagai pendahulu tokoh agama yang juga ahli dalam tukang kayu yang mampu membuat rumah adat Kudus yang tidak hanya dikenal lokal desa saja, namun sudah dalam taraf Kabupaten Kudus dan bahkan manca negara.

“Kegiatan peringatan haul Mbah Rogo Moyo yang kita selenggarakan dengan meriah seperti ini sudah berlangsung selama 15 tahun (2010-2024),” katanya.

Lebih lanjut Noor Yadi menambahkan, bahwa rumah adat Kudus Joglo Pencu sebagai media dakwah untuk menyebarkan agama Islam di Desa Kaliwungu.

“Mbah Rogo Moyo itu tokoh adat dengan kemampuan di bidang seni ukir dan arsitektur yang hebat dan diteladani, sehingga mendapat julukan sang maestro rumah adat joglo pencu,” imbuhnya.

Ada 22 kontingen dengan peserta lebih dari 1.570 warga, setiap kontingen membawa gunungan kirab dan kreativitas yang berbeda. Sejauh 1,5 kilo meter kontingen mengarak gunungan mulai dari Masjid Alid menuju makam Mbah Rogo Moyo hingga berkumpul di lapangan Dukuh Proko Winong.

Daya tarik bagi warga Desa Kaliwungu dan sekitarnya, adalah kirab budaya dan perebutan nasi berkah dan gunungan hasil bumi. Mereka berharap dapat berkah dari sang maestro rumah adat Kudus Joglo Pencu.

“Usai dikirab, gunungan hasil bumi dikumpulkan di tengah-tengah lapangan. Setalah pembacaan doa, ribuan warga bergegas saling berebut gunungan,” pungkasnya.

Sementara itu, Ani Warga dukuh Winong Desa Kaliwungu RT 04 RW 07 dan Bawi Warga Desa Getassrabi RT 06 RW 04 mengungkapkan perasaan senang dapat nasi berkah.

Dirinya sudah menunggu satu jam lebih demi untuk mendapatkan nasi berkah juga hasil bumi.

“Senang dapat nasi berkah, walaupun tadi menunggu satu jam lebih, ini dapat nasi berkah, terong dan kacang,” ungkapnya.

Sementara itu Hj. Mutrikah, SH., Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus yang mewakili Pj Bupati Kudus M. Hasan Chabibie yang diminta untuk membuka kirab budaya mengatakan, ‘dengan bacaan Bismillahirrahmanirrahi, kirab budaya dalam rangka haul Mbah Rogo Moyo kami buka’.

Dirinya juga menyampaikan, bahwa kirab budaya Mbah Rogo Moyo ini menjadi tradisi budaya yang perlu dilestarikan dengan baik.

Kami optimis, masyarakat Desa Kaliwungu mampu mengoptimalkan potensi budaya untuk pemberdayaan masyarakat sekitar.

“Ini artinya, ada semangat Masyarakat sekitar untuk melestarikan budaya desa, saya optimis desa wisata ini bisa ikut memberdayakan masyarakat melalui potensi-potensinya,” terangnya.

Maha karya Sang Maestro berupa rumah adat Joglo Pencu sudah menjadi ikon Kudus sebagai benda cagar budaya.

Oleh karena itu, pihaknya berupaya agar menjaga potensi peninggalan Mbah Rogo Moyo dengan penyelenggaraan kegiatan budaya dan edukasi kepada generasi muda.

“Generasi muda perlu dilibatkan dalam kegiatan seperti ini, melakukan sosialisasi, menyebarkan keunikan desa sehingga bisa menjadi magnet bagi para wisatawan ke desa Kaliwungu,” pungkasnya.

(Elm@n)

error: Content is protected !!