KUDUS – jursidnusantara.com Tradisi penyembelihan hewan kurban di Masjid Menara Kudus kembali digelar dengan tetap melestarikan tradisi dan nilai toleransi yang diajarkan Sunan Kudus masih dijaga secara turun temurun.
Tradisi kurban di kompleks Menara Kudus bukan sekadar penyembelihan hewan kurban pada saat Idul Adha. Di tengah perubahan zaman, masyarakat Kudus masih menjaga warisan nilai toleransi yang telah hidup ratusan tahun lalu sejak masa dakwah Sunan Kudus.
Gedung parkir kompleks Menara Kudus pada Jum’at (29/5/2026) berubah menjadi pusat pengolahan daging kurban saat perayaan Iduladha 1447 H.
Menariknya, tidak ada sapi yang disembelih di lokasi tersebut. Hewan kurban yang dipotong seluruhnya terdiri atas kerbau dan kambing.
Tahun ini, Yayasan Menara, Masjid dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menyiapkan 16 ekor kerbau dan 37 ekor kambing untuk dikurbankan.
Ketua Panitia Kurban Menara Kudus, Muhammad Faqol Ahzab, mengatakan, tradisi kurban di Menara Kudus rutin dilaksanakan setiap tanggal 12 Dzulhijjah dan telah menjadi agenda yang selalu dinantikan masyarakat.
Selain mempertahankan tradisi tanpa sapi, panitia juga tetap mempertahankan penggunaan daun jati dan keranjang bambu sebagai pembungkus daging untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Menurutnya hewan kurban yang disembelih tahun ini terdiri dari 16 ekor kerbau dan 37 ekor kambing.
“Tahun lalu pelaksanaan kurban menyembelih 18 ekor kerbau dan 33 ekor kambing. Jadi dari sisi perbedaan ada penambahan jumlah kambing,” kata Muhammad Faqol Ahzab pada Jum’at, 29 Mei 2026.
Ia juga menjelaskan, bahwa tadisi penyembelihan hewan kurban di Menara Kudus tidak menyembelih sapi sudah diwariskan secara turun-temurun sejak era Sunan Kudus.
Menurutnya, saat proses penyebaran Islam di Kudus, masyarakat waktu itu masih banyak yang memeluk agama Hindu yang mensucikan sapi.
Untuk menghormati kearifan lokal karena sapi hewan yang dimuliakan dalam ajaran Hindu dan Budha. Sunan Kudus lantas menganjurkan umatnya untuk tidak menyembelih sapi saat pelaksanaan ibadah kurban.
“Konon, sapi masih dipercaya sebagai hewan yang suci oleh umat Hindu, ini sebagai simbol penghormatan dan toleransi,” jelasnya.
Nilai toleransi tersebut terus dipertahankan hingga sekarang. Tradisi kurban di Menara Kudus tetap tidak menyertakan sapi sebagai hewan yang disembelih pada saat Hari Raya Idul Adha.
“Kita masih melestarikan tradisi itu dengan tidak menyembelih sapi, dakwah toleransi yang diajarkan Sunan Kudus masih dijaga secara turun-temurun,” ujarnya.

Dalam pelaksanaan kurban tahun ini, pihaknya melibatkan ratusan perewang untuk membantu mengiris, membungkus, dan membagikan daging kurban. Mereka berasal dari Desa Kauman dan sekitarnya.
“Untuk jumlah perewang tahun ini, berasal dari Desa Kauman dan sekitarnya. Jumlah perewang ada 430 orang,” terangnya.
Ia menargetkan pendistribusian daging kurban sekitar 12.000 bungkus yang akan disalurkan kepada para mustahik di sembilan kecamatan di Kudus. Selain untuk mustahik, keranjang berisi daging kurban juga akan diberikan kepada para kiai dan tokoh masyarakat di Kudus.
Uniknya daging kurban yang akan dibagikan dibungkus menggunakan daun jati. Hal tersebut dilakukan guna meminimalisir daging cepat busuk.
“Dibungkus daun jati, agar daging kurban tidak cepat membusuk,” bebernya.
Pihak yayasan berharap tradisi kurban di Menara Kudus terus dilestarikan sebagai simbol syiar Islam yang sarat nilai toleransi. Sebab menyembelih kurban tanpa sapi telah menjadi identitas masyarakat Kudus yang diwariskan secara turun-temurun.
“Tradisi tersebut terus dijaga hingga sekarang sebagai simbol toleransi dan penghormatan antar umat beragama,” pungkasnya.
(Elm@n)












