Senja di Keraton Ratu Boko, Ketika Sejarah dan Legenda Menari dalam Satu Panggung

SLEMAN  jursidnusantara.com – Menjelang matahari tenggelam di ufuk barat, langit di atas Perbukitan Boko berubah jingga keemasan. Angin yang berembus pelan membawa suasana berbeda di kawasan Keraton Ratu Boko, sebuah situs bersejarah yang berdiri megah di ketinggian sekitar 196 meter di atas permukaan laut. Pada Jumat (3/7/2026), ratusan pengunjung memadati kompleks situs untuk menyaksikan pertunjukan Sendratari Roro Jonggrang, sebuah pementasan yang memadukan sejarah, budaya, dan legenda Jawa dalam satu panggung terbuka.

Berbeda dengan kompleks candi pada umumnya, Keraton Ratu Boko tidak didominasi bangunan ibadah yang menjulang. Kawasan seluas sekitar 25 hektare ini justru menghadirkan sisa-sisa sebuah kompleks yang diyakini sebagai pusat aktivitas pemerintahan atau keraton pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Dari gapura monumental, talud, kolam, pendopo, hingga gua pertapaan, semuanya menjadi saksi perjalanan panjang peradaban di tanah Jawa.

Secara administratif, situs ini berada di dua wilayah, yakni Dusun Dawung, Kalurahan Bokoharjo dan Dusun Sumberwatu, Kalurahan Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya yang berada di atas bukit menjadikan Ratu Boko memiliki panorama yang memukau. Dari kawasan ini, pengunjung dapat menikmati bentangan Candi Prambanan hingga Gunung Merapi di kejauhan.

Menurut kajian arkeologi, Keraton Ratu Boko mulai dikenal dunia ilmiah sejak akhir abad ke-18. Penelitian yang dilakukan secara bertahap menemukan berbagai peninggalan penting, mulai dari prasasti, arca, yoni, lingga, stupa hingga artefak keramik. Prasasti Abhayagiri Wihara bertahun 792 Masehi menyebutkan bahwa Rakai Panangkaran mendirikan sebuah wihara bernama Abhayagiri Wihara sebagai tempat bertapa dan kehidupan para pertapa Buddha. Temuan ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut pernah menjadi pusat kegiatan keagamaan Buddha.

Namun, perkembangan berikutnya memperlihatkan kuatnya pengaruh Hindu. Berbagai temuan seperti arca Durga, Ganesha, lingga, yoni, serta Prasasti Pereng tahun 863 Masehi yang berkaitan dengan pemujaan Dewa Siwa menjadi bukti bahwa kompleks ini kemudian berkembang sebagai pusat kekuasaan bercorak Hindu. Perpaduan dua tradisi besar tersebut menjadikan Ratu Boko sebagai salah satu situs paling unik di Indonesia.

Penelitian arkeologi yang semakin intensif pada abad ke-20 menyimpulkan bahwa kompleks ini bukan sekadar candi, melainkan sebuah kawasan keraton lengkap dengan permukiman, area pertahanan, tempat ibadah, hingga sistem pengelolaan air. Pemugaran telah dilakukan sejak masa kolonial Belanda, kemudian berlanjut setelah kemerdekaan Indonesia. Program konservasi besar berlangsung sejak 1978 dan terus dilakukan hingga kini oleh pemerintah melalui Balai Pelestarian Kebudayaan.

Saat senja mulai turun, suasana berubah semakin dramatis. Pertunjukan Sendratari Roro Jonggrang pun dimulai.

Narator mengisahkan kekalahan Prabu Damar Moyo oleh Prabu Boko. Setelah itu, Bandung Bondowoso maju menantang Prabu Boko dan berhasil mengalahkannya. Di tengah kemenangan tersebut, Bandung jatuh hati kepada putri Prabu Boko yang cantik jelita, Roro Jonggrang. Namun sang putri menyimpan dendam karena Bandung adalah pembunuh ayahnya.

Dengan kecerdikannya, Roro Jonggrang mengajukan syarat mustahil. Bandung harus membangun seribu candi hanya dalam satu malam sebagai syarat pernikahan. Berkat kesaktiannya, Bandung hampir menyelesaikan seluruh candi. Akan tetapi, Roro Jonggrang bersama para perempuan desa menyalakan api dan menumbuk padi agar suasana menyerupai fajar. Pasukan makhluk halus pun meninggalkan pekerjaannya karena mengira pagi telah tiba.

Mengetahui dirinya ditipu, Bandung Bondowoso murka. Ia mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca batu untuk melengkapi candi ke-1.000. Legenda inilah yang selama berabad-abad melekat dengan kawasan Prambanan dan Ratu Boko, meskipun para sejarawan menegaskan bahwa kisah tersebut merupakan cerita rakyat yang berbeda dengan fakta sejarah arkeologis.

Di balik kisah legenda itu, Keraton Ratu Boko tetap menyimpan nilai sejarah yang jauh lebih besar. Situs ini menjadi bukti bagaimana peradaban Jawa kuno berkembang melalui perpaduan budaya, agama, dan kekuasaan politik yang berlangsung selama berabad-abad.

Ketika matahari benar-benar tenggelam dan lampu panggung mulai menyala, para penari menutup pertunjukan dengan gerak yang anggun di bawah siluet gapura megah Keraton Ratu Boko. Tepuk tangan penonton menggema, seolah menjadi penghormatan bagi sejarah panjang yang masih hidup hingga hari ini.

Di Ratu Boko, sejarah tidak hanya tersimpan di balik batu-batu purbakala. Ia terus diceritakan, ditarikan, dan diwariskan kepada setiap orang yang datang menyaksikannya.

error: Content is protected !!