KUDUS – jursidnusantara.com Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kian memicu kekhawatiran global, terutama dampaknya terhadap ekonomi, energi, hingga stabilitas keamanan dan pangan.
Hal tersebut mendorong berbagai elemen untuk meningkatkan pemahaman bersama, salah satunya Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kudus yang menggelar Halal Bihalal dan Halaqoh yang digelar di Aula Mubarokfood Cipta Delicia Kudus pada Sabtu siang, 11 April 2026.

Kegiatan tersebut membahas dinamika konflik Timur Tengah serta dampaknya terhadap kondisi global.
Ketua MUI Kabupaten Kudus, KH Ahmad Hamdani Hasanuddin, mengawali Sambutan dengan mengajak seluruh tamu undangan untuk memperkuat silaturrahmi.
“Alhamdulillah kita bisa berkumpul, bermanfaat setelah puasa dan merayakan kemenangan Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M. Mari kita jaga silaturrahmi,” ujarnya.
KH Ahmad Hamdani juga menyampaikan pesan dari Bupati Kudus terkait pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Karena hal tersebut menjadi faktor penting dan berdampak langsung pada kesehatan dan kwalitas hidup masyarakat.
“Mari kita jaga kebersihan lingkungan sekitar kira. Jika lingkungan bersih, manfaatnya kembali kepada kita, terjaga kesehatan dan terhindar dari bencana,” pesannya.
Dalam kesempatan tersebut Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus, Prof. Dr. H. Abdurrohman Kasdi, mengungkapkan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memiliki dampak luas, terutama terhadap stabilitas energi dunia.
Menurutnya, kawasan Timur Tengah memegang peran strategis sebagai jalur distribusi minyak global. Salah satu titik krusial berada di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan energi dunia.
”Jika terjadi gangguan di kawasan itu, maka akan berdampak pada stabilitas energi dunia,” ujarnya, saat halaqoh, Sabtu (11/4/2026).

Abdurrohman Kasdi juga menjelaskan bahwa, konflik tersebut tidak hanya berdimensi militer, tetapi juga mencakup aspek geopolitik, ekonomi, dan diplomasi global.
“Dinamika konflik juga dipengaruhi sejumlah faktor, seperti penguatan blok militer dan ideologis, pergeseran diplomasi negara-negara Arab, hingga keterlibatan kekuatan besar dunia,’ jelasnya.
Ia menilai Indonesia perlu tetap konsisten pada prinsip politik luar negeri bebas aktif dengan mengedepankan diplomasi damai.
”Jika tidak diantisipasi, kondisi ini berpotensi menimbulkan gejolak sosial dimasyarakat. Indonesia perlu menolak pelanggaran hukum internasional serta melakukan mitigasi terhadap dampak ekonomi dalam negeri,” pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Universitas Muria Kudus (UMK), Prof. Dr. H. Achmad Hilal Majdi, menyoroti bahwa konflik global saat ini tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga melalui perang informasi.
Ia menyebut dunia kini memasuki era post-truth, di mana informasi dapat dikonstruksi sehingga memengaruhi persepsi publik.
”Dalam kondisi ini, sesuatu yang tidak ada bisa dianggap ada, dan yang salah bisa dianggap benar,” katanya.
Menurutnya, konflik modern tidak lagi sekadar perebutan sumber daya seperti minyak, tetapi juga berkaitan dengan upaya pembentukan opini dan dominasi global.
Dampaknya pun meluas ke berbagai sektor, mulai dari budaya, polarisasi media, hingga terganggunya rantai pasok dunia.
”Tidak hanya ekonomi, tetapi juga sosial dan budaya ikut terdampak,” ujarnya.
Melalui pembahasan tersebut, bisa menjadi pengingat bahwa konflik global tidak hanya berdampak pada tingkat internasional, tetapi juga berpengaruh hingga ke kehidupan masyarakat, termasuk dalam aspek ekonomi dan informasi.
Diskusi tersebut berlangsung interaktif dibawah panduan Moderator, Prof. Dr. Kisbiyahto.
Para peserta tampak antusias mengikuti jalanya Halaqoh yang membahas konflik di Timur Tengah dengan berbagai dampak terhadap kehidupan nasional.
(Elm@n)












