KUDUS – jursidnusantara.com Keberadaan kolam retensi senilai Rp. 350 miliar di Kabupaten Kudus kembali menjadi sorotan tajam setelah ribuan warga Dukuh Tanggulangin Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati masih dilanda banjir hingga mencapai 80 centimeter.
Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) Gerakan Nasional Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (GN-PK) Kabupaten Kudus angkat suara soal proyek pembangunan kolam retensi seluas 5 hektare di Kabupaten Kudus. Proyek tersebut menghabiskan anggaran APBN 350 miliar rampung pada Desember 2024, dengan harapan banjir yang sering terjadi di Kecamatan Jati dan sekitarnya bisa diatasi.

Ketua DPK GN-PK Kabupaten Kudus Moh. Sugiyanto mengatakan, bahwa proyek pembangunan kolam retensi seluas 5 hektare dan memiliki daya tampung 200.000 meter kubik yang menghabiskan dana dari pusat sebesar Rp. 350 miliar ternyata tak mampu mengurangi banjir di wilayah Kecamatan Jati dan sekitarnya.
“Kolam retensi yang mulai beroperasi awal 2025 itu sebelumnya digadang-gadang mampu menanggulangi banjir di dua kecamatan, yakni Kecamatan Jati dan Kecamatan Kota. Namun di lapangan, warga menilai dampaknya belum terasa signifikan. Banjir masih rutin terjadi setiap tahun, baik sebelum maupun sesudah kolam retensi dibangun,” kata Moh. Sugiyanto pada Minggu, 18 Januari 2026.
Mas Gi’ panggilan akrab Moh. Sugiyanto menambahkan, saat ini ada ribuan warga Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, masih dilanda banjir. Genangan air bahkan mencapai ketinggian hingga 80 centimeter akibat cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
“Ada sekitar 1.000 kepala keluarga atau 3.500 jiwa terdampak banjir yang tersebar di empat dukuh. Banjir tahun ini dinilai lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya karena ketinggian air mencapai 80 centimeter,” imbuhnya.

Kami melihat bahwa, untuk pintu pembuangan yang dari kampung ini di rubah yang semula besar di rubah menjadi kecil sehingga air yg dari warga yang biasanya lancar justru sekarang ini terhambat dengan di rubahnya pintu pembuangan tersebut.
“Disamping rubahnya pintu besar menjadi kecil ada banyak sampah yang ikut menyumbat masuknya air menuju pompa kolam retensi,” sebutnya.
Kami mengharapkan kolam retensi di kembalikan fungsi awal pembuatan kolam retensi dengan tujuan utamanya mereduksi banjir tahunan dengan menampung kelebihan air hujan dan rob dari wilayah kota dan mengalirkannya ke sungai Wulan.
“Tujuan utama kolam retensi adalah mengatasi dan mengurangi banjir di wilayah Kecamatan Jati dan sekitarnya. Khusunya Desa Jati Wetan yang merupakan pintu gerbang masuk Kota Kudus dan terminal bus Kudus,” ujarnya.
Kami juga menyoroti, bahwa kolam retensi saat ini justru mengurangi air di 3 Kecamatan yaitu kecamatan Jati, Kecamatan Undaan, dan Kecamatan Mejobo dan itu yang membuat kolam retensi seolah tidak ada fungsinya dan tidak efisien.
“Solusi atau jalan keluar yang terbaik adalah bagaimana kolam retensi itu di buat dengan tujuan awal yaitu untuk mengurangi dampak banjir di Desa Jati Wetan Kecamatan Jati Kabupaten Kudus, caranya bagaimana agar kolam retensi dan pompa tersebut bisa berfungsi dan benar-benar bisa membawa manfaat untuk masyarakat dan bisa menanggulangi banjir di Desa Jati Wetan,” terangnya.
Giyanto juga menjelaskan, bahwa kolam retensi tersebut perlu di buatkan pintu penyekat diperbatasan Desa Jati Wetan dengan Desa Tanjung kali yang sungainya menuju ke 2 Kecamatan Undaan dan Mejobo.
Hal tersebut dilakukan agar air ini bisa di kendalikan, ketika banjir di Desa Jati Wetan maka pintu bisa di tutup air di pompa dan ketika air mulai berkurang pintu di buka serta di atur serta di kendalikan sesuai situasi dan kondisinya dan itulah solusi yang terbaik dan saya pastikan kalau itu di buat maka tak akan ada lagi banjir di Desa Jati Wetan dan sekitarnya.

Warga Dukuh Tanggulangin, Sri Wahyuni, menyebut kondisi kampungnya tak banyak berubah. Setiap hujan dengan intensitas tinggi, air tetap menggenangi permukiman.
“Bahkan banjir tahun ini lebih parah dari dibanding tahun-tahun sebelumnya, karena ketinggian air mencapai 80 centimeter. Banjir disini mulai hari Sabtu (10/1/2026) dan airnya mulai meningkat tajam pada Selasa dan Rabu kemarin,” ujarnya.
Sri juga menjelaskan, bahwa kolam retensi yang ada belum memberikan pengaruh besar terhadap pengurangan dampak banjir di Desa Jati Wetan.
(Elm@n)












