KUDUS – jursidnusantara.com Gelaran Kaliwungu Fest 2025 yang digelar oleh Pemerintah Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus yang berlangsung selama 5 hari pada Rabu-Minggu 6-10 Agustus 2025, yang dipusatkan di lapangan Desa Kedungdowo.

Camat Kaliwungu Satria Agus Himawan Camat mengatakan, kegiatan ini merupakan rutin tiap tahun diselenggarakan oleh Pemcam Kaliwungu dan pada tahun 2025 ini yang ke empat kalinya sejak tahun 2022 hingga sekarang.
Ada 50 stand yang disediakan, karena di Kecamatan Kaliwungu ada 15 desa dan setiap desa mendapat 2 stand dan yang lainnya diperuntukan bagi para pelaku UMKM yang lain.
Dalam kegitan ini, tidak hanya produk UMKM yang ditampilkan, namun juga penampilan seni dan budaya kearifan lokal yang akan ditampilkan setiap desa yang dimulai pada hari ini Rabu hingga Minggu.
“15 Desa yang ada di wilayah Kaliwungu akan menampilkan potensi seni dan budaya kerarifan lokal setiap malam yang dimulai pada hari Rabu-Minggu 6-10 Agustus 2025,” pungkasnya.
Desa Banget menampilkan “Tari Kstaria Anjali” yang ditampilkan oleh sanggar “Mekar Sore” Desa Banget.

Ketua sanggar Mekar Sore, Susanto mengatakan, Ksatria Anjali itu artinya Ksatria adalah seorang satria dan Anjali artinya terhormat. Jadi Ksatria Anjali merupakan sebuah cerita seorang satria yang sangat dihormati dan disegani oleh warga Kudus khususnya yang ada di lereng gunung muria.
Karena cerita ini tidak begitu populer, sehingga banyak dilupakan oleh masyakarat. Oleh karena itu, kami dari sanggar “Mekar Sore Desa Banget” mengaplikasikan dalam bentuk tari, agar supaya cerita rakyat tersebut dapat di kenal oleh masyarakat yang lebih luas.
Susanto juga menjelaskan, bahwa dalam menciptakan tari ksatria anjali tersebut, dirinya melakukan observasi ke lereng gunung muria untuk menggali informasi dengan bertanya kepada beberapa orang tua untuk ditanya-tanya soal cerita tersebut, karena banyak para pemuda yang saat ini juga tidak mendengar cerita tersebut.
Tari Ksatria Anjali, merupakan cerita dari masyarakt Kudus yang berada di lereng gunung muria yang mempertahankan tanah air dengan berperang melawan pasukan Belanda.
“Tari Anjali merupakan tarian yang kita ciptakan dari sanggar Mekar Sore Desa Banget yang akan kita patenkan di Haki. Tari Ksatria Anjali itu menggabungkan antara seni tari, koreografi, dan lagu yang harus selaras dengan gerak tari,” jelas Susanto.
Akhmad Wijaya (kelas 6 SD) dan Galuh Aqila Garnishiba (Kelas 12 SMA) pemain tari Anjali mengatakan, kami merasa senang dan gembira bisa performance dalam acara Kaliwungu Fest 2025 ini.
“Senang dan gembira bisa menampilkan tari Kstaria Anjali di kegiatan pada malam hari ini,” katanya.
Ditanya tentang latihan, Kami latihan selama satu pekan, karena kami sudah terbiasa menari sejak usia TK jadi tidak ada kendala yang berarti.
Galuh menambahkan, bahwa dirinya sering menari dalam berbagai acara, pernah main di Alun-alun Simpang 7 Tari Kretek dan di Jepara Tari Krido Jati.

Sementara itu, Desa Kedungdowo menampilkan Teater Watu Gilang dari MTs NU Nurul Huda. Pembina Teater “Watu Gilang” Fitrianingsih mengatakan, teater ini baru kita bentuk beberapa bulan yang lalu. Rencana dari H. Moh. Ahlis selaku kepala madrasah akan dimasukan progam ekstra kulikuler.
Fitri juga menjelaskan, bahwa teater “Watu Gilang” menampilkan drama pendek berjudul “Lenguit ” cerita ini menggambarkan tentang kekecewaan rakyat kecil yang berharap pada sang penguasa (pejabat pemerintah) ternyata berbalik arah dari harapan masyarakat.
“Kekuasaan yang seharusnya menjadi payung perlindungan kini telah berubah menjadi pedang yang menusuk hati” jelasnya.
Teater Lenguit ini menceritakan sebuah kehidupan di sebuah kota besar, yang penuh dengan tantangan yang keras, keberanian, penghianatan, dan pengorbanan, demi untuk menegakkan keadilan sosial.
Dikisahkan dalam teater tersebut ada seseorang yang sangat pemberani bernama Mak Iyun dia adalah seorang perempuan yang sangat tegas, pemberani, dan peduli dengan warga sekitarnya, demi untuk kesejahteraan dan keadilan masyarakat.
Namun Mak Iyun tidak menyadari bahwa disekitarnya ada sengkuni, seorang penghianat bernama Sartam, dia adalah kaki tangan Koh Acun.
Koh Acun punya kekuasaan dan pengaruh besar didaerahnya. Koh Acun adalah seorang yang sangat sadis dan kejam. Dia mampu melakukan apa saja demi untuk mencapai tujuan, makanya dia membayar Sartam untuk memberi informasi setiap pergerakan yang akan dilakukan oleh Mak Iyun dan warga yang tidak suka dengan Koh Acun.
Makanya Mak Iyun dan warga yang mau mendemo Koh Acun bisa bocor, itu karena ulah Sartam yang membocorkan rencana aksi yang dilakukan Mak Iyun dan warga.
Sartam juga memfitnah Mak Iyun yang telah meracuni warga yang mau berdemo, padahal dialah pelaku peracunan tersebut. Pasalnya warga yang hendak berdemo dikasih makan Mak Iyun, tapi dalam makanan tersebut telah diberi racun oleh Sartam. Singkat cerita Mak Iyun ditangkap polisi karena dituduh meracuni warga yang hendak melakukan aksi.
Adelia Fredella Ulani pemain Teater Lenguit sebagai Apak Omo (kelas 9) dan Fransisca Oktavia sebagai Mak iyun (Kelas 8) mengatakan, kami merasa senang dan gembira bisa performance malam ini.
“Walaupun cukup melelahkan dalam memainkan cerita ini, tapi senang bisa tampil yang terbaik dan bisa diterima oleh masyarakat,” katanya.
Ditanya tentang latihan, dalam penampilan malam ini, kami latihan satu pekan. Walaupun kami sejak kecil belum pernah main teater, tapi setiap latihan kami mencoba untuk mendalami karakter yang kami tampilkan.
“Semoga apa yang kami tampilkan dapat diterima oleh masyarakat yang menyaksikan,” harapnya.

Akbar dan Ali Ahsan warga Kabupaten Demak yang kebetulan lewat mampir menyaksikan mengatakan, kami senang bisa menonton acara ini, geratis dan tempatnya strategis.
“Tadi habis jalan-jalan ke Mall Kudus, pulang mampir lihat ada acara yang asyik dan menarik,” katanya.
Saya suka dengan penampilan teater anak-anak tadi. Tapi sayang microphone tidak banyak jadi suaranya tidak begitu jelas. Kami sebenarnya kagum dengan Kudus, kota kecil tapi banyak kegiatan yang sekala besar.
“Sering lihat kegiatan yang ada di Kudus, kota ini banyak sekali mengadakan kegitan tingkat Jawa Tengah bahkan event nasional,” ujarnya.
(Elm@n)












