KUDUS – jursidnusantara.com Pada hari ke tujuh dalam peringatan haul Mbah Rogo atau yang lebih dikenal Maestro rumah adat Kudus Joglo Pencu tumpang songo adalah musik empat negri “Suluk Tajug Menara Kudus”.
Ketua panitia kegiatan Joko Zulaikhan mengatakan, peringatan haul Mbah Rogo Moyo pada tahun 2024 telah kami siapkan berbagai kegiatan selama 8 hari mulai tanggal 12-19 Juli 2024.

Kegiatan pada malam hari ini adalah kirab luwur dan parade obor yang kita mulai dari masjid darul istiqomah (masjid alit) menuju makam Mbah Rogo Moyo, kemudian dilanjut dengan musik empat negri Suluk Tajug Menara Kudus yang bertempat di lapangan Mbah Rogo Moyo.
“Tadi acaranya kirab luwur Mbah Rogo Moyo kemudian lanjut dengan seni musik Suluk Tajug Menara Kudus,” kata Joko Zulaikhan ditengah kesibukannya. 18 Juli 2024 malam.
Pada malam hari ini, kita hadirkan Suluk Tajug Menara bersama dengan Dr. Abdul Jalil, Habib Anis Sholeh Ba’asin, Kiai Masykuri, H. Noor Yadi, M.Pd., Zunahah, S.Ag serta dari Pemda Asisten II Jadmiko Muhardi, Satria Agus Himawan Camat Kaliwungu, dinas Cukai Yahya, dan Narasumber DBHCHT Sururi Mujib.
Selama 7 hari acara yang kami laksanakan mulai dari ziarah bersama, Santunan Hatim, Penjamasan Pusaka, berbagai hiburan musik hingga pada puncak acara besuk Jumat siang (19/7) kirab budaya dan ditutup pada malam harinya dengan pengajian, umum di masjid darul Istiqomah.
Sementara itu, acara Suluk Tajug Menara Kudus ini dipandu oleh Dr. Abdul Jalil, agar suasana bisa lebih gayeng dengan didampingi segelas kopi Ireng.
Seperti biasa Dr. Abdul Jalil dalam menghidupkan suasana para narasumber diminta untuk menyampaikan satu persatu dan para hadirin diajak berkomunikasi serta diselingi dengan alunan musik Suluk Tajug Menara, agar tidak bosen.
H. Noor Yadi, M.Pd ketua Pengurus Pemangku Punden dan Belik (P3B) Mbah Rogo Moyo Desa Kaliwungu mengatakan, kegiatan peringatan haul Mbah Rogo Moyo merupakan progam tahunan.
Hal ini sudah berlangsung sejak tahun 2010. Tujuannya mengingat sang cikal bakal sebagai pendahulu tokoh agama yang juga ahli dalam tukang kayu yang mampu membuat rumah adat Kudus yang tidak hanya dikenal lokal desa saja, namun sudah dalam taraf Kabupaten Kudus dan bahkan manca negara.
“Kegiatan peringatan haul Mbah Rogo Moyo yang kita selenggarakan dengan meriah seperti ini sudah berlangsung selama 15 tahun (2010-2024),” katanya.
Lebih lanjut Noor Yadi menambahkan, berbagai atraksi dan kebudayaan khas Desa Kaliwungu ditampilkan. Salah satunya yang paling tersohor yakni rumah gebyok khas Kudus, Anker Perkusion, gelaran berbagai hiburan musik dan pengajian Habib Zainal Abidin serta suluk Tajug Menara Kudus pada malam ini.
Yang menjadi daya tarik bagi warga Desa Kaliwungu dan sekitarnya, adalah kirab budaya. Dalam ritual haul Mbah Rogo Moyo adalah perebutan nasi berkah dan gunungan hasil bumi. Masyarakat Desa Kaliwungu dan sekitarnya berebut nasi berkah. Mereka berharap dapat berkah dari sang maestro rumah adat Kudus.

Sementara itu, tokoh masyarakat Zunahah mengungkapkan sejarah Mbah Rogo Moyo sendiri dikenal masyarakat dan para ulama sebagai penyebar agama Islam didukuh Winong, Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Konon katanya Mbah Rogo Moyo adalah seorang pendatang yang sampai saat ini belum diketahui silsilah keturunannya.
Masih menurut Zunahah Berbagai sumber mengatakan beliau berasal dari Solo. Mbah Rogo Moyo merupakan salah satu prajurit Pangeran Diponegoro yang setia dan berani melawan penjajah Belanda.
Ketika itu tahun 1830 Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda, kemudian Mbah Rogo Moyo beserta teman-temanya yaitu Mbah Rogo Perti, Mbah Rogo Joyo, Mbah Rogo Dadi beserta tukang masak Mbok Semi dan Mbok Rasemi pergi ke Brangwetan (Jawa Timur) Kediri hingga akhirnya sampai ke Desa Kaliwungu.
Zunahah menambahkan “bahwa Mbah Rogo Moyo adalah seorang yang mempunyai keilmuan yang tinggi, diantaranya adalah pengetahuan luas dibidang ilmu agama islam, keahlian dalam bidang pertukangan kayu, dan ukir kayu. Dalam kepandaian tersebut diajarkan kepada masyarakat sambil mengajarkan ilmu agama Islam.
Dalam kepandaian beliau miliki mampu menciptakan rumah adat Kudus (Rumah Joglo Pencu Tumpang Songo), yang mempunyai nilai budaya yang diakui sejak dulu sampai dengan sekarang yang terkenal di oleh masyarakat Kudus hingga manca negara,” tambahnya.
Salah satu karya ukirnya adalah membuat Gebyok Rogo Moyo yang mengandung nilai religi, keindahan, dan keunikan yang menjadi ciri khas tersendiri dari ukiran selain Kudus. Salah satu karya monumental tersebut berada di Pendopo Kabupaten Kudus yang dibangun pada era Bupati Kudus yang ke III, Kanjeng Kyai Adipati Ario Condronegoro III yang memimpin pada tahun 1812-1837,” pungkasnya.

Camat Kaliwungu Satria Budi Himawan mengucapkan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada segenap panitia dan para pengurus punden diwilayah Kaliwungu yang masih melestarikan nilai-nilai budaya dan adat istiadat yang perlu diwariskan kepada anak cucu kita nanti.
“Keberadaan punden dan belik yang berada diwilayah Kaliwungu merupakan bentuk warisan budaya dari leluhur kita yang patut kita lestarikan kepada anak cucu kita nanti,” ucapnya.
Jadmiko Muhardi Asisten II Setda Kudus menambahkan, peringatan haul Mbah Rogo Moyo perlu kita lestarikan, sang maestro rumah adat Kudus, yang terkenal Ruman Joglo Pencu Tumpang Songo di Desa Kaliwungu.
“Berbicara mengenai pengukir kayu khas Kudus, Desa Kaliwungu adalah gudangnya. Hal tersebut berkat Mbah Rogo Moyo yang menjadi pionir pengukir kayu di Desa tersebut.
Sampai sekarang, tumpang songo khas Kudus buatan Mbah Rogo Moyo dapat dilihat di bangunan pendopo Kabupaten Kudus. Tumpang songo masih legendaris karena kerumitan motif dan pembuatannya.
Oleh karena itu saya menghimbau agar para generasi muda Desa Kaliwungu ikut menjaga warisan budaya Desa. Tak hanya menjaga, potensi budaya harus terus dikembangkan agar tetap lestari dan berkembang.
Kemudian acara ditutup dengan Mauidhoh Hasanah bersama Habib Anis Sholeh Ba’asin.
(Elm@n)












