Meriahkan Sedekah Bumi, Tampilkan Tari Bun Ya Ho Asli Tari Desa Megawon Kudus

KUDUSjursidnusantara.com Pemerintah Desa Megawon Kudus adakan sedekah bumi atau apitan. Kegiatan ini merupakan acara yang setiap tahunnya dilaksanakan di beberapa desa tak terkecuali Desa Megawon Kecamatan Jati, Kabupaten. Sabtu, 7 Juni 2024 siang.

Tampak hadir dalam kegiatan sedekah bumi Desa Megawon, Dinas Kebudayaan Kudus M. Aflah, Camat Jati Fiza Akbar, Forkopimda, dan Forkopincam, Perangkat Desa, BPD, RT, RW, BUMDes, PKK, dan sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat Desa Megawon.

Nurasag Kepala Desa (Kades) Megawon mengungkapkan, kegiatan kirab gunungan, wayang kulit, dalam kegiatan sedekah bumi kita sentralkan di lapangan Desa Megawon. Sedekah bumi sendiri dilaksanakan sebagai rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rezeki berupa hasil bumi.

Kami juga mengucapakan terima kasih kepada segenap panitia, Perangkat Desa, BPD, PKK, RT, RW, Karangtaruna, BUMDes, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan semuanya yang terlibat dalam kegiatan ini.

Dalam kegiatan sedekah bumi atau apitan 2024 ini kita ambil tema “Swargane Bumi”. Artinya adalah apa yang telah diberikan bumi ini wajib kita syukuri dengan Do’a bersama dan bersedekah untuk bumi, agar kita diberi keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan.

Untuk memeriahkan acara sedekah bumi kita tampilkan tarian asli dari Desa Megawon yakni; tari Bun Ya Ho. Dimana tarian ini merupakan tradisi tahunan Desa Megawon sejak saya kecil.

Tari Bun Ya Ho diciptakan sekira tahun 1950. Ben Ya Ho artinya ajakan berbuat kebajikan yang diciptakan oleh H. Abdul Jalil (Muhammad Tamzid asal Bumiayu Kebumen kemudian menetap di Desa Megawon dan menikah dengan Hj. Turah.

Ketika itu Desa Megawon minim tentang agama Islam oleh H Abdul Jalil dalam berdakwahnya dengan cara mengadakan tari kaum santri yang dipertunjukkan pada hari besar dan hajatan.

Perlu diketahui sejak sebelum saya menjadi Kades Megawon tarian ini, tidak lagi ditampilkan, kemudian saya menggali informasi kepada orang-orang yang sepuh (tua) untuk bercerita tentang ciri khas dan bentuk tari Bun Ya Ho tersebut.

Setelah mendapat cerita dari berbagai sumber, kemudian tari Bun Ya Ho kita modifikasi dan kita modernisasikan sesuai zaman. Pada tahun 2014 tari Bun Ya Ho mulai kami tampilkan dalam berbagai kegiatan termasuk dalam Karnival tahun 2017 yang diselenggarakan oleh Pemda Kudus tari Bun Ya Ho mendapat juara 3.

Menurutnya, tradisi dan pelestarian kebudayaan ini merupakan warisan para leluhur, maka kearifan budaya lokal ini, wajib kita lestarikan kepada anak cucu kita.

“Desa Megawon mempunyai dua warisan budaya yakni; “tari Bun Ya Ho dan “tari Getuk Giling” kedua tari tersebut wajib kita lestarikan,” terangnya.

Saat ini juga dalam pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), agar kedua tari yang dimiliki oleh Desa Megawon tercatat sebagai hak cipta atau hak paten.

“Dengan adanya acara Sedekah Bumi atau Apitan ini, semoga kedepan Desa Megawon bisa selamat, pemerintah desanya, selamat warganya, yang pada akhirnya masyakarat Desa Megawon bisa maju dan semakin sejahtera,” pungkasnya.

Sementara itu, Fiza Akbar Camat Jati mengapresiasi Desa Megawon yang menyelenggarakan kegiatan sedekah bumi ini dengan meriah dengan berbagai tampilan seni budaya yang luar biasa.

Kami dari pemerintah Kecamatan Jati mendorong, memotivasi, dan akan berusaha berkoordinasi dari dinas pariwisata dan berbagai OPD, agar budaya dan kearifan lokal yang dimiliki oleh Desa bisa segera di urus HKI, dapat di jadikan hak paten, juga menjadi destinasi wisata yang dimiliki oleh Kabupaten Kudus.

Terpisah, Fira dan Munzayanah RT 02 RW 01 salah satu kontingen dalam acara sedekah bumi Desa Megawon mengatakan, senang bisa berpartisipasi dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Pemdes Megawon.

Munzayanah menambahkan, dalam kontingen kami membawa 100 orang. Dalam penampilan ini kami menampilkan produksi dari RT 02 RW 01 yakni jamu gendong, oleh karenanya dalam performance mengambil tema “Sehat Waras Bumiku”.

“Dalam penampilan kami, kalah maupun menang tidak menjadi soal yang penting dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini,” imbuhnya.

 

(Elm@n)