KH Ali Ihsan: Tradisi Kupatan Secara Filosofi, Dalam Perspektif Surat Ali Imron 133-134

KUDUS – jursidnusantara.com Sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri sebagian umat muslim Indonesia, terutama di Pulau Jawa, merayakan lebaran ketupat. Lebaran ketupat kerap identik dengan tradisi slametan yang sudah berkembang dikalangan umat Islam Nusantara.

Tradisi Kupatan atau Lebaran Ketupat yang dirayakan sepekan setelah Idulfitri (8 Syawal) di Indonesia merupakan perpaduan kearifan lokal Nusantara dengan nilai-nilai Islam. Dalam perspektif Surat Ali Imran ayat 133-134, tradisi ini bukan sekadar perayaan kuliner, melainkan wujud nyata pengamalan taqwa.

Tampak ribuan warga Desa Kedungdowo mengikuti kenduren kupatan di masjid Besar Darussalam di Dukuh Jetak, Desa Kedungduwo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah Pada Sabtu pagi, 8 Syawal 1447 H/2026 M.

Pembina Ta’mir Masjid Besar Darussalam KH. Ali Ihsan, menerangkan, bahwa ketupat ini berawal dari penyebaran agama Islam di Pulau Jawa oleh Sunan Kalijaga.

Dimana Sunan Kalijaga dalam memperkenalkan Bakda lebaran setelah satu pekan itu lebaran kupat yang merupakan budaya yang dimulai satu pekan setelah lebaran. Pada hari itu, banyak masyarakat yang menganyam dan mempersiapkan hidangan ketupat. Kemudian ketupat akan dibagikan kepada kerabat yang lebih tua sebagai simbol kebersamaan.

“Bodo Kupat iku gak ono dalile, sebab di negara arab itu tidak ada Janur, umat Islam itu hanya ada dua lebaran yakni Idul Fitri dan Idul Adha (bodo gede atau Idul Fitri dan bodo besar atau Idul Adha). Namun di pulau Jawa ada tradisi Kupatan yang dikenal dengan bodo Kupat,” ujar KH. Ali Ihsan.

Lebih lanjut KH Ali Ihsan menambahkan, bahwa ada 3 Ciri Orang Bertaqwa, yang dijelaskan dalam Surat Ali Imran ayat 133—134, dijelaskan tentang tiga ciri yang dimiliki oleh orang-orang yang bertakwa, salah satu cirinya adalah orang yang senantiasa minta ampunan dan bertaqwa kepada Allah SWT. Orang yang selalu berinfaq baik waktu lapang ataupun sempit, menahan amarah, saling memaafkan kesalahan orang lain, dan selalu berbuat kebaikan untuk memperoleh kerindlo’an Allah SWT.

Dalilnya ada dalam Surat Ali Imron 133-134 Allah Ta’ala berfirman :

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabbmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa,”

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”

Dalam kitab tafsir Imam Al-Baghawi yang berjudul Ma ‘alimut Tanzil, beliau menjelaskan ayat ini dimulai dengan kata wa saari‘uu yang merupakan fi’il amri (kata perintah) yang artinya bersegeralah kalian.

Bersegera dalam hal ini yaitu kepada kebaikan. Sebab, sebagaimana sama-sama kita ketahui bahwa sebaik-baik kebaikan adalah yang disegerakan.

Anggota DPRD Kudus Fraksi PKB ini menjelaskan, dalam filosofi Jawa kata kupat berasal dari bahasa Jawa “Ngaku Lepat (mengaku akan kesalahan) secara filosofis sesama umat muslim diharapkan mengakui kesalahan dan saling mema’afkan dengan memakan ketupat tersebut.

“Menurut tradisi Jawa, bungkus ketupat terbuat dari Janur kuning yang melambangkan tolak bala, sedangkan bentuk segi empat mencerminkan kiblat papat lima pancer, artinya kemanapun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Allah SWT atau arah kiblat”, jelasnya.

Ketupat berasal dari kata ‘Kupat’ dengan arti ganda yakni ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan lalu papat (empat tindakan). Empat tindakan yang dimaksudkan antara lain; Luberan (melimpah), Leburan (melebur dosa/saling mema’mafkan), Lebaran (pintu ampunan terbuka lebar), dan Laburan (dibersihkan, mensucikan diri).

Tradisi ini merupakan warisan budaya orang tua terdahulu. Kenduren kupatan bukan hanya tentang menikmati hidangan khas lebaran, tetapi juga tentang merenungkan perjalanan spiritual dan mempererat tali silaturahim antar warga.

Dengan memahami filosofi di baliknya, kenduren kupatan ini menjadi lebih bermakna karena sarat dengan makna dan budaya, tidak hanya sekadar tradisi turun-temurun.

Tradisi ini penting untuk dipertahankan sebagai pengingat nilai-nilai keikhlasan, silaturrahim, dan kebersamaan.

“Tradisi Kupatan merupakan manifestasi kultural dari ajaran Qur’an. Filosofi kupat sebagai pengakuan dosa (ngaku lepat), pembungkus janur (sejatine nur/cahaya ilahi), dan penyajiannya yang dibagikan secara sosial mencerminkan sifat orang bertaqwa dalam Surat Ali Imran 133-134, yaitu: memohon ampun, gemar berinfak, menahan amarah, dan saling memaafkan (kesalahan),” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Ta’mur Masjid Besar Darussalam Jetak Kedungdowo Kyai Moh. Muhibbin mengakan, kegiatan kenduren kupatan adalah merupakan salah satu progam tahunan pengurus masjid Besar Darussalam (MBDS).

“Acara do’a bersama dalam rangka kenduren kupatan merupakan sebuah tradisi leluhur yang perlu kita lestarikan dan ini merupakan progam tahunan”, kata Moh. Muhibbin pada Sabtu padi, 8 Syawwal 1447 H / 28 Maret 2026 M.

Lebih lanjut Kyai Muhibbin menambahkan, bahwa sebelum acara do’a bersama dimulai, tadi pagi sekira pukul 05.30 WIB kita isi dengan terbang papat, hal ini dikandung maksud untuk mengundang masyarakat yang ingin mengikuti acara kenduren kupatan.

“Lebaran 1 syawal biasanya diawali dengan saling mema’afkan sesama warga, setelah itu, lebaran ketupat itu sebagian ketupat dan lepet disedekahkan ke Masjid dengan harapan agar selalu diberi kelancaran rezeki, kesehatan, keselamatan, dan keberkahan,” imbuhnya.

Kyai Muhibbin juga menjelaskan, kegiatan menduri kupatan tersebut bertempat di serambi Masjid Besar Darussalam Jetak Kedungdowo dengan susuan acara sebagai berikut; pembukaan Ali Ahmadi Kadus Desa Kedungdowo, Iftitahul Majlis Oleh Ustadz Umar Said, Sholawat Ustadz Anis Naf’an, Sambutan Pembina Takmir oleh KH. Ali Ihsan, dan Do’a penutup saya sendiri.

(Elm@n)

error: Content is protected !!