KUDUS – jursidnusantara.com Perhimpunan Pemangku Punden dan Belik (P3B) Kasunan Kudus menyelenggarakan acara sedekah bumi.
Acara dikemas dalam kegiatan bertajuk “Sedekah Bumi” yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pemangku Punden dan Belik Kasunanan Kudus. Bertempat di Alun-alun kulon. Rabu, 22 Mei 2024 malam.

Dr. Abdul Jalil., M.E.I., mengatakan, kegiatan sedekah bumi atau Apitan dilaksanakan sebagai rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT yang telah memberikan rezeki berupa hasil bumi.
Saat ini, bumi sedang tidak baik-baik saja, penduduknya juga tidak baik-baik saja, alam sering di gerayah, keamanan dan ketertiban juga tidak sedang baik. Lebih parah lagi penjarahan ada dimana-mana, perang ada dimana-mana, ketertiban dan keamanan tidak stabil, bumi ini terasa panas, lalu bagaimana untuk mendinginkan bumi ini. Karena kalau bumi ini, tidak kita dinginkan, maka kiamat sudah ada didepan mata kita.

“Yang perlu di ingat bumi atau alam ini perlu kita jaga keseimbangan, kelestarian, dan keberlangsungannya agar bumi ini tidak cepat kiamat,” katanya.
Malam hari ini, Pengurus P3B Kasunan Kudus menyembelih 200 ayam, agar Kudus aman, dan pada umumnya Indonesia Aman. Ini yang kita lakukan, kita perbuat, untuk bersedekah dan berbagi kepada umat manusia.
Dalam kegiatan bertajuk “Sedekah Bumi” Pengurus P3B Kasunanan Kudus mengambil Narasumber Irjen. Pol Drs.Ahmad Luthfi, S.St., M.Si., Pj. Bupati Kudus Dr. Muhammad Hasan Chabibie, S.T., M.S.I., dan Dr. Aguk Irawan, Lc., M.A., dari Bantul Yogyakarta. Beliau ini yang akan membedah tentang sedekah Bumi.
“Karena pak Pj. Bupati Kudus Muhammad Hasan Chabibie ada satu dan lain hal, maka akan diganti oleh pembina P3B Kasunan Kudus KH. Ahmad Badawi Basyir”, terangnya.
Hidup di dunia saling berkaitan satu dengan yang lainnya, oleh karenanya kita harus saling menghormati dan menjaga keberlangsungan bumi. Manusia harus menjaga bumi ini jangan sampai dirusak, dijarah, dan pada akhirnya keseimbangan bumi tidak seimbang.
Oleh karena itu, antara manusia, hewan, dan segala macam isinya harus ada toleransi, harmonisasi, umat beragama. Kudus yang merupakan simbol perdamaian, kebersamaan umat beragama, dalam wujud menara Kudus.
Sementara itu, pembina P3B Kasunan Kudus KH. Ahmad Badawi Basyir menjelaskan, bahwa dunia ini milik bersama tidak untuk satu golongan saja, tidak milik manusia saja, ada hewan, tumbuh-tumbuhan dan segala macam isinya.
Mari kita rawat bumi ini dengan baik, dan saling menjaga satu dengan yang lainnya. Kenapa bumi ini perlu kita sedekahi, karena kita sebagai manusia harus saling memberi, merawat, dan menjaga bumi ini dengan sebaik-baiknya.
“Jadi semua makhluk diciptakan ini untuk keberlangsungan alam, manusia harus menjaga alam ini dengan sebaik-baiknya, jangan sampai merusak alam semesta karena pada akhirnya keseimbangan alam tidak akan tercipta, jika kita tidak saling menjaganya,” jelas KH Badawi.
Kapolda Jateng Irjen. Pol Drs.Ahmad Luthfi, S.St., M.Si., mengucapkan banyak terima kasih karena telah diberi kesempatan untuk hadir di acara kebudayaan seperti ini. Sehingga ke depan ia dan jajarannya bisa semakin mengerti bagaiman cara menghormati, dan melestarikan kearifan budaya lokal.
”Terima kasih, saya sekarang bagian dari bapak-bapak semuanya,” kata Luthfi.
”Saya ucapkan terima kasih karena di Kudus ini sudah ada sebuah kebersamaan dan nilai toleransi yang sudah ditanamkan dari dulu, seperti tradisi yang sudah dilestarikan sejak Sunan Kudus yakni sedekah bumi ini,” katanya.
Luthfi pun menyebut jika para pemangku punden dan belik di Kudus ini adalah seorang pionir pemersatu bangsa. Khususnya dalam hal bertoleransi saat berbangsa dan bernegara.
”Bapak-bapak ini merupakan pioner terbaik pemersatu bangsa dan negara,” terangnya.
Dalam kesempatan itu pula, Kapolda Jateng juga diangkat menjadi anggota kehormatan Pemangku Punden dan Belik Kudus. Hal tersebut ditandai dengan dipakainya iket khusus untuk Kapolda.
”Terima kasih, saya sekarang bagian dari bapak-bapak semuanya,” pungkasnya.
Sementara itu, Dr. Aguk Irawan, Lc., M.A., mengungkapkan, bahwa tradisi dan budaya sedekah bumi yang pertama adalah dari orang Kapitayan. Mereka menganggap bumi sebagai ibu, maka kita harus menghormati bumi ini layaknya ibu, maka bumi kita disebut ibu Pertiwi.
Sayangnya orang Kapitayan dalam melakukan sedekah bumi ada beberapa hal yang tidak boleh dimakan. Oleh karena itu, Sunan Ampel yang mengadopsi kebudayaan orang Kapitayan jika mengadakan sedekah bumi semuanya boleh dimakan, agar tidak mubazir-kan barang.
Kita diwajibkan untuk menjaga bumi ini, karena jika bumi tidak kita jaga kestabilan dan keseimbangan bumi tidak akan terjadi, justeru akan terjadi malapetaka dan kerusakan bumi.
“Semua makhluk diciptakan di bumi Pertiwi, untuk keberlangsungan alam, manusia harus menjaga bumi, dengan sebaik-baiknya, jangan sampai merusak bumi karena pada akhirnya keseimbangan bumi tidak akan tercipta, jika kita tidak saling menjaganya,” terangnya.
“Semoga pertemuan malam hari ini, ada pihak P3B, para ulama dan kyai, serta pihak kepolisian yang menjadi satu, menjadikan pertanda kedepan Kudus, Jawa Tengah, umumnya Indonesia akan lebih baik,” tutupnya.
(Elm@n)












