Berita  

Anniversary ke-7 Museum Jenang GusJigang “Memaknai Museum Sebagai Pitutur, Pituduh, Pitulungan”

KUDUSjursidnusantara.com Museum Jenang GusJigang Kudus didirikan oleh PT Mubarokfood Cipta Delicia, sebuah perusahaan yang memproduksi jenang “Mubarok”.

Museum jenang digagas tepat pada momentum jenang merk Mubarok berusia satu abad, yaitu pada tahun 2010. Meski baru 7 tahun kemudian tepatnya pada 24 Mei 2017, baru terealisasi.

 

Kini Museum Jenang GusJigang menapaki Anniversary yang ke-7, tepatnya tanggal 24 Mei 2017-24 Mei 2024. Museum Jenang Gusjigang Kudus beralamat di Jl. Sunan Kudus-Muria 33, Kec. Kota Kudus.

H. Muhammad Hilmy Dirut Mubarokfood mengatakan, Museum Jenang Kudus menapaki usia yang ke-7 pada tanggal 24 Mei 2024.

“Museum Jenang GusJigang Kudus merupakan museum jenang yang pertama dan satu-satunya di Indonesia, kini usianya sudah 7 tahun (24 Mei 2017-24 Mei 2024)”, katanya.

Lebih lanjut Hilmy menambahkan, dalam Anniversary yang ke-7 ini, Museum Jenang GusJigang Memaknai Museum sebagai Pitutur, Pituduh, dan Pitulungan. Dimana hal tersebut mengandung arti sebagai berikut;

Pitutur, artinya petuah bijak. Apa yang kita lakukan mesti sesuai dengan pitutur. Jangan sampai apa yang kita perbuat tidak sesuai dengan petuah bijak.

Pituduh, artinya panduan, atau bimbingan. Janganlah malu untuk meminta petunjuk. Malu bertanya maka akan sesat di jalan. Perlakukan orang lain sebagai guru kehidupan. Tidak perlu gengsi dan kegeden rumongsa, yang membuat diri ini merasa sudah hebat dan hal ini menutup diri belajar dari orang lain.

Pitulungan, artinya bantuan. Pitulungan ini bukan sekadar bantuan tapi segala hal yang memudahkan kita terutama dari aspek yang tidak bisa kita rencanakan dan kendalikan. Pitulungan dalam hal ini dekat pengertiannya dengan keberuntungan. Dalam banyak hal kita sudah berusaha, tapi alam bisa jadi berkehendak lain. Sehebat – hebatnya seseorang, keberuntungan itu menentukan keberhasilan “Wong pinter kalah karo wong beja”.

Dirinya juga menjelaskan Museum memiliki peranan yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas belajar, terutama dalam ilmu sosial. Selain untuk sumber belajar juga dapat menjadi media pembelajaran bagi seseorang untuk memperoleh informasi dan juga pengetahuan.

Ada 4 manfaat kita berkunjung ke Museum Jenang Gusjigang yakni;

1. Mengenal Lebih Dalam Tentang Sejarah.
2. Melestarikan Warisan Budaya
3. Memberikan Pengalaman Istimewa
4. Melihat Dunia Lebih Luas

Museum ini jadi inspirasi bagi generasi milenial untuk terus belajar dan dapat menarik nilai sejarah dan seni budaya di tengah kehidupan sekarang yang serba canggih.

GusJigang merupakan singkatan dari ‘gus’ yang bermakna akhlak bagus, ‘ji’ berarti pandai mengaji, dan ‘gang’ yang bermakna pintar berdagang.

Ketiganya prinsip itu menjadi tuntunan masyarakat sehingga mereka memiliki tekad untuk menjadi orang yang berkepribadian baik, memiliki kemauan untuk mengaji, dan ingin berusaha atau berdagang.

Museum Jenang dan GusJigang merupakan wisata edukasi terpadu yang menyajikan mulai dari wisata sejarah, seni budaya, religi, yang dilengkapi dengan venue, benda koleksi dan spot foto yang unik dan menarik.

Mengunjungi museum ini, kita akan merasakan serunya sensasi berlibur sambil belajar, mengenal budaya dan kearifan lokal yang ada di Jawa Tengah. Oleh karena itulah, Museum Jenang dan Gusjigang menjadi rujukan kunjungan dari sekolah-sekolah mulai dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi dari berbagai kota, bahkan manca negara.

Ketika pengunjung masuk dalam museum Jenang GusJigang akan disambut dengan nuansa kuning emas. Ornamen dinding berupa motif geometri yang sangat cantik. Di tengah terdapat kaligrafi berbentuk bunga. Kaligrafi tersebut terbuat dari bahan tembaga dan kuningan. Pengunjung juga akan menemui gambar dan penjelasan singkat tentang beberapa tokoh terkemuka di Kudus, seperti Sunan Kudus, Sunan Muria, dan masih banyak lagi. Selain itu, juga terdapat replika Ka’bah.

Selain itu, terdapat galeri Al-Qur’an dan Asmaul Husna. Tujuan ruangan ini adalah agar pengunjung selalu bersyukur dan mencintai Al-Qur’an. Di ruangan ini akan menemukan berbagai Al-Qur’an dengan berbagai ukuran. Ada satu Quran besar yang dikelilingi oleh tujuh Al-Qur’an kuno.

Ketujuh Al-Qur’an tersebut adalah Al-Qur’an Tua daun lontar, Al-Qur’an kulit sapi, Al-Qur’an mini Istanbul Turki, Al-Qur’an sampul pintu Kakbah, Al-Qur’an kertas kuno, Al-Qur’an kuno surau dan Al-Qur’an kuno pesantren.

Di sana juga akan menemukan replika Kudus masa lalu, omah kapal, rumah kembar, stasiun kereta Kudus, dan patung Nitisemito yang merupakan pengusaha rokok asal Kudus yang berada di ruang paling belakang. Selain itu, ada juga tempat photo booth pakaian adat Kudus, spot foto replika tentang usaha dan perdagangan seperti membuat jenang, membuat rokok, dan ada juga seni ukir.

Konsep menarik itulah yang ditawarkan ketika kita berkunjung ke Museum Jenang dan Gusjigang. Kita bisa belajar tentang sejarah maupun budaya yang ada di Kudus dan Jawa Tengah, bebas berfoto dengan spot yang menarik, serta bisa berbelanja oleh-oleh makanan khas Jawa Tengah di akhir kunjungan.

“Pada intinya Museum Jenang GusJigang didedikasikan untuk membantu kita melihat berbagai macam dimensi tempat, dimensi waktu dan juga hal lain nya yang lebih luas,” tutup Hilmy.

(Elm@n)