KUDUS – jursidnusantara.com Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Kudus menunjukkan komitmennya peduli kemanusiaan dengan membuka Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kudus di Jalan Lingkar Tanjung, sebagai posko pengungsian bencana banjir.
Langkah ini, diambil menyusul terjadinya banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus pada awal bulan Januari tahun ini.

Ketua DPC PDIP Kudus, Achmad Yusuf Roni, mengatakan bahwa persiapan posko dilakukan secara intensif agar bisa segera dimanfaatkan warga yang membutuhkan tempat aman untuk mengungsi.
“Kami menyiapkan posko bencana sekaligus tempat pengungsian di kantor DPC yang baru. Alhamdulillah, sejak Kamis (15/1/2026) posko sudah mulai dibuka dan bisa digunakan untuk pengungsi. Dan sudah diisi sekitar 74 orang,” kata Yusuf Roni pada Kamis, 15 Januari 2026.
Menurutnya, lokasi tersebut memiliki kapasitas yang cukup untuk menampung warga terdampak bencana.
Posko pengungsian diperkirakan mampu menampung sekitar 150 orang, menyesuaikan kondisi dan kebutuhan di lapangan.
“Kapasitasnya sekitar 150 orang. Insyaallah masih mencukupi,” jelasnya.
Pada Sabtu pagi, 18 Januari 2026, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris turut hadir langsung ke lokasi pengungsian. Bupati menyapa para pengungsi satu per satu, berdialog langsung untuk mendengar keluhan warga, sekaligus menyerahkan bantuan uang tunai sebagai bentuk kepedulian dan dukungan pemerintah daerah terhadap warga yang terdampak bencana.
Kehadiran Bupati Kudus di posko pengungsian PDIP semakin mempertegas sinergi antara pemerintah daerah dan partai politik dalam penanganan bencana kemanusiaan, dengan mengedepankan nilai gotong royong dan empati sosial.

Pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kudus H. Ali Imron menerangkan, bahwa pembukaan kantor partai sebagai posko pengungsian merupakan bentuk komitmen ideologis PDIP untuk selalu hadir di tengah penderitaan rakyat.
“Sejak Kamis, 15 Januari 2026, kantor PDIP Kudus kami buka penuh untuk warga terdampak banjir dari Desa Karang Rowo dan dukun Karangrejo Desa Ngemplak, awalnya 74 dan sekarang sudah ada 96 pengungsi. Ini bukan soal politik, tapi soal kemanusiaan. PDIP sejak awal berkomitmen menjadi rumah rakyat,” ujar H. Ali Imron.
Selain menyediakan tempat pengungsian, DPC PDIP Kudus juga melengkapi posko dengan fasilitas penunjang kebutuhan dasar pengungsi. Di antaranya dua unit WC portable serta satu kamar mandi yang tersedia di dalam bangunan kantor DPC.
Tersedia juga akses internet untuk kebutuhan anak-anak yang menjalani sekolah daring. Tidak hanya itu, dukungan logistik juga menjadi perhatian utama.
DPC PDIP Kudus juga menyiapkan bahan kebutuhan pokok untuk membantu warga selama masa tanggap darurat hingga pascabencana.
“Kami juga menyiapkan kebutuhan logistik, terutama bahan pokok, khususnya untuk pascabencana,” terangnya.
Ia juga menjelasan, bahwa langkah ini merupakan wujud kepedulian dan tanggung jawab sosial partai terhadap masyarakat, terutama di tengah situasi bencana yang kerap terjadi di Kudus akibat cuaca ekstrem.
H. Ipong panggilan akrab H. Ali Imron menambahkan, seluruh pengurus dan kader PDIP Kudus bergerak secara gotong royong menyiapkan kebutuhan dasar pengungsi, mulai dari tempat istirahat, logistik, hingga pendampingan selama masa pengungsian.
Langkah PDIP Kudus ini dinilai menjadi contoh konkret bagaimana partai politik seharusnya berperan, tidak hanya hadir saat pemilu, tetapi juga berdiri di barisan terdepan ketika rakyat menghadapi musibah. Kantor partai tak lagi sekadar simbol kekuasaan, melainkan benar-benar berfungsi sebagai rumah pengabdian dan kepedulian sesama.
Di saat sebagian pihak masih berkutat pada narasi dan pencitraan, PDIP Kudus memilih bekerja nyata, membuka pintu selebar-lebarnya bagi warga yang membutuhkan, serta membuktikan bahwa politik sejatinya adalah alat perjuangan untuk kemanusiaan.
Salah satu pengungsi, Winarsih (35), warga Dukuh Karangrejo, Desa Ngemplak, mengatakan, bahwa bencana banjir di wilayahnya mencapai ketinggian hingga satu meter dan sempat masuk ke dalam rumah.
“Ketinggian air sampai satu meter, masuk rumah juga. Kemarin dievakuasi bareng-bareng naik truk dengan polisi. Ada juga yang memilih tinggal di rumah,” kata Wibarsih.
Ia mengaku daerah tempat tinggalnya memang sudah menjadi langganan banjir setiap tahun. Biasanya air baru surut hingga satu bulan.
Pada banjir tahun kemarin, ia bahkan harus mengungsi selama 10 hari meski air belum sepenuhnya surut.
(Elm@n)












