KUDUS – jursidnusantara.com Puluhan masyarkat Kudus yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Sipil Kudus Untuk Indonesia Bermartabat ( ARSKIB) mendakan demo protes atas penampilan Dancesport yang diselenggarakan oleh KONI Kudus pada pembukaan acara KONI Award 2025 yang dinilai dalam penampilannya yang terlalu erotis.
Dalam penampilan tersebut menuai sorotan tajam dari publik yang kurang pantas ditampilkan di Pendapa Kabupaten Kudus, yang selama ini dikenal sebagai tempat yang sakral untuk kegiatan pemerintahan.
Gelaran demo, ini merupakan reaksi keras masyarakat terhadap penampilan tarian dalam ajang KONI Award di Pendapa Kabupaten, 29 Desember 2025 lalu. Massa menilai atraksi tersebut tidak memenuhi etika kepatutan dan mencederai marwah Pendapa sebagai simbol pemerintahan yang sakral.
Dalam aksinya, massa menyasar dua lokasi strategis, yakni Gedung DPRD Kudus dan Pendapa Kabupaten Kudus pada Senin, 5 Januari 2026.
Selain membawa sound system, spanduk, dan poster tuntutan, massa melakukan aksi teatrikal yang menyita perhatian pengguna jalan.
Sebagai simbol protes keras, massa membawa rentengan celana dalam wanita yang diikat pada seutas tali. Pakaian dalam tersebut kemudian ditempelkan dan digantungkan di pintu gerbang Gedung DPRD serta Pendapa Kabupaten Kudus.

Koordinator aksi, Soleh Isman mengatakan, bahwa penampilan dancersport di Pendapa sangat tidak pantas, terlepas dari dalih bahwa itu adalah cabang olahraga.
“Alasan bahwa itu adalah cabang olahraga tidak tepat. Seperti apakah atlet karate, binaraga boleh tampil di jalan? Kan tidak patut,” kata Soleh pada Senin pagi (5/1/2026).
Soleh Kliwir panggilan akrab Soleh Isman menjelaskan, bahwa dalam aksi ini ada beberapa poin tuntutan dan latar belakang aksi tersebut:
“Dugaan pelanggaran norma, etika, dan kearifan lokal dalam acara KONI Award 2025.
Kritik terhadap carut-marut kepengurusan KONI Kabupaten Kudus.
Dugaan manipulasi penggunaan anggaran,” jelasnya.

Menanggapi aksi tersebut, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris didampingi Wakil Bupati Bellinda Birton turun langsung menemui massa di depan Pendapa.
Di hadapan para demonstran, Bupati secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi.
“Kami minta maaf, dan kami sudah menegur Ketua KONI atas kejadian yang menimbulkan kegaduhan tersebut,” ujarnya.
Bupati juga memberikan klarifikasi bahwa penampilan dancersport tersebut terjadi di luar sepengetahuannya. Aksi panggung itu disebut tidak tercantum dalam susunan acara (rundown) yang dilaporkan ke Bagian Umum maupun Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokopim).
Sementara itu, saat massa berada di Gedung DPRD Kudus, mereka ditemui oleh Mardijanto, Ali Ihsan, dan Kholid Mawardi Komisi D.

Wakil ketua komisi D DPRD Kudus Ali Ihsan mengatakan, kami selaku wakil rakyat, siap menampung aspirasi kawan-kawan demonstran. Apa yang menjadi keinginan dan tuntutan kalian semua akan segera kami tindak lanjuti.
“Kami berjanji akan segera menindaklanjuti aspirasi dan tuntutan yang disampaikan oleh Aliansi Rakyat Sipil Kudus,” kata Ali.
(Elm@n)












