Ribuan Warga Mengantre Nasi Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus, Boleh Ambil Lebih Dari Satu Asalkan…

KUDUS – jursidnusantara.com Ribuan warga mengantre untuk mendekatkan nasi Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus atau yang sering disebut dengan istilah nasi jangkrik yang dibagikan kepada masyarkat umum mulia pukul 05.00-08.30 WIB. Kegiatan yang berlangsung pada pada Kamis pagi, 25 Juni 2026.

Pada pembagian tersebut, masyarakat diperbolehkan mengambil brekat lebih dari satu kali asalkan mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan oleh panitia.

Ketua Panitia Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus 1448 H/2026 M, Ah. Arinal Haq mengatakan, bagi mereka yang ingin mengambil brekat lebih dari satu harus mengikuti antrean dari awal lagi. Hal ini dilakukan untuk menjaga ketertiban selama proses pendistribusian.

“Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketertiban dan memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat. Biar lebih teratur dan merata,” katanya.

Guna memastikan kelancaran acara panitia telah menyiapkan serangkaian jalur pembagian nasi jangkrik. Tersedia dua rute untuk memisahkan antara laki-laki dengan perempuan.

Jalur antrian laki-laki berkisar 431 meter, dimulai dari utara kawasan Perempatan Sucen menuju pos pembagian berkat di lingkungan Menara Kudus.

Sedangkan untuk antrean perempuan memanjang sekitar 285 meter dari pangkalan ojeg ke arah perempatan bersambung ke arah utara menuju kompleks Menara.

“Selain menyiapkan jalur antrian yang jelas, panitia juga menempatkan sejumlah pos keamanan, pos kesehatan, area parkir tamu, serta titik-titik layanan pendukung lainnya untuk memberikan kenyamanan kepada para jamaah,” ungkapnya.

Masyarakat dapat memperhatikan jalur tersebut serta mengikuti arahan petugas. Dianjurkan mereka mengikuti salat subuh berjamaah di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus sebelum mengantre.

Proses pendistribusian puluhan ribu nasi jangkrik atau nasi brekat dimulai pukul 05.30 WIB. Arinal mengajak seluruh masyarakat yang ikut mengantre menjaga perilaku serta keamanan diri.

Arinal Haq juga menjelaskan, bahwa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, panitia menyiapkan 9,1 Ton beras, 22 ekor kerbau dan 92 ekor kambing, yang akan diolah menjadi 34 ribu lebih nasi brekat.

“Jumlah nasi Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus setiap tahun ada perbedaan, karena disesuaikan dengan jumlah hewan yang disembelih dan bantuan beras dari masyarakat luas. Untuk tahun ini nasi brekat ada 34 ribu lebih,” jelasnya.

Tradisi tersebut juga menjadi wujud kebersamaan dan gotong royong masyarakat, karena seluruh pendanaan berasal dari sedekah warga yang tidak hanya berupa uang, juga ada yang berupa barang seperi beras, kain, bumbu, hewan kerbau dan kambing.

“Tahun ini panitia menetima sedekah hewan kerbau sebanyak 22 ekor, dan kambing sebanyak 92 ekor,” bebernya.

Hewan-hewan tersebut kemudian disembelih dan diolah menjadi dua menu khas yang diyakini sebagai makanan kesukaan Kangjeng Sunan Kudus, yakni uyah asem dan masakan jangkrik. Uyah asem merupakan olahan daging tanpa kuah, sedangkan masakan jangkrik disajikan berkuah.

“Pada tanggal 9 Muharam 1448 Hijriah, hewan sedekah tersebut diolah menjadi dua menu masakan yaitu uyah asem dan masakan jangkrik. Keduanya merupakan menu yang identik dengan tradisi Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus,” ujarnya.

Selain sibuk memasak daging hewan, panitia juga terus bekerja keras untuk menanak nasi. Total sebanyak 9,1 ton beras dimasak oleh para perewang pada buka luwur kali ini.

“Total perewang yang membantu dalam pelaksanaan masak nasi jangkrik atau brekat Buka Luwur Kangjeng Sunan Kudus sekitar 1.000 orang. Mereka mulai memasak sejak hari Rabu dini hari kemarin,” pungkasnya.

Diantara ribuan warga, Nur Sa’adah (43), warag Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus juga terlihat mengantre untuk mendapatkan nasi Buka Luwur.

“Sejak pagi bersama dengan anak saya berangkat dari rumah untuk mengantre. Setelah 1 jam lebih saya dan anak baru mendapatkan nasi Buka Luwur,” ujar Nur Sa’adah.

Lebih lanjut Nur Sa’adah menambahkan, bahwa nasi ini tidak kami makan disini, namun saya bawa pulang untuk kami makan bersama dengan keluarga dirumah.

“Dua nasi yang kami peroleh akan kami bawa pulang untuk kami makan bersama dengan keluarga yang ada dirumah, untuk mendapat berkah dari Mbah Sunan Kudus,” imbuhnya.

Acara tahunan ini menjadi sebuah tradisi yang terus dinantikan masyarakat baik Kudus maupun dari luar Kudus.

(Elm@n)

error: Content is protected !!