Festival Tari Lajur Caping Kalo, Wujud Pelestarian dan Merawat Kearifan Budaya Khas Kudus

Oplus_131072

KUDUS – jursidnusantara.com Festival Tari Lajur Caping Kalo wujud pelestarian dan merawat sekaligus memperkenalkan Tari Lajur Caping Kalo, khususnya caping kalo sebagai warisan budaya tak benda Kabupaten Kudus kepada generasi muda dan masyarkat luas. Acara tersebut berlangsung di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus pada, Ahad pagi, 24 Mei 2026.

Tercatat sebanyak 92 tim penari mengikuti tahap seleksi yang berlangsung sejak 23 Februari hingga 11 Maret 2026. Dari tim kalangan pelajar SMP ada 24, tim pelajar SMA ada 19 dan 49 tim kategori umum.

Proses seleksi melalui vidio penampilan tari. Setelah terseleksi dari 92 tim pendaftar dipilih masing-masing empat tim terbaik (12 finalis) yang akan tampil pada babak final.

12 finalis yang tampil di Alun-alun Simpang Tujuh menunjukkan keseriusan generasi muda untuk merawat warisan budaya khas Kudus itu.

Sebanyak 12 tim penari dari kalangan pelajar SMP, SMA dan umum menjadi finalis setelah terseleksi dari 92 tim pendaftar. Agenda itu merupakan upaya pelestarian warisan budaya caping kalo terancam punah.

Dengan caping kalo, kain hingga selendang, masing-masing kelompok silih berganti menampilkan olah gerak yang mewakili rasa cinta terhadap warisan budaya ciri khas Kudus. Perpaduan gerak kontemporer menjadi ciri pembeda dari setiap tim finalis yang tampil.

Plh Kepala Disbudpar Kudus Teguh Riyanto menyampaikan, festival Tari Lajur Caping Kalo bekerjasama dengan Yayasan Karya Bakti Nojorono dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus. Untuk menghadirkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya merawat budaya dan kearifan lokal sebagai identitas kota.

“Kegiatan ini sebagai wadah apresiasi, edukasi, dan pengembangan kreativitas seni tari tradisional, cri khas Kudus,” ujarnya.

Tegus juga menjelaskan, bahwa Kegiatan itu juga dimaksudkan untuk nguri-nguri budaya dan upaya pelestarian Tari Lajur Caping Kalo.

“Kami ingin melestarikan dan memperkenalkan Tari Lajur Caping Kalo sekaligus memperkenalkan Warisan Budaya Tak Benda (WTB) Kabupaten Kudus kepada generasi muda,” jelasnya.

Selain itu, gelaran tersebut juga dalam rangka mempersiapkan diri menuju pemecahan Rekor MURI Tari Lajur Caping Kalo rencananya bertepatan dengan peringatan Hari Jadi ke-477 Kota Kudus.

“Semoga kegiatan ini bisa menumbuhkan kecintaan generasi muda dan rasa bangga terhadap warisan budaya di Kudus,” terangnya.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelestarian budaya Tari Lajur Caping Kalo melalui festival tersebut.

Ia berharap
Tari Lajur Caping Kalo semakin dikenal generasi muda dan masyarkat luas, serta mampu menjadi identitas budaya Kudus. Bahkan pada peringatan Hari Jadi Kudus ke-477 nantinya bisa masuk dalam pemecahan Rekor MURI.

“Tari Lajur Caping Kalo diharapkan nantinya menjadi pemecah rekor MURI. Ini bisa menjadi kado indah untuk Kabupaten Kudus yang menapaki usia ke-477,” harapnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga mengajak masyarakat untuk turut serta dalam pelestarian caping kalo. Dengan mengenakan atribut caping kalo setiap tanggal 23 serta setiap event kesenian dan kebudayaan di Kudus.

“Kami mengajak masyarakat untuk berpartisipasi, tidak harus dengan menari. Dengan memakai caping kalo, menunjukkan rasa bangga, kesadaran dan menjaga hubungan dengan alam,” bebernya.

Dia berharap, warisan budaya caping kalo terus dirawat dan dilestarikan sehingga identitas Kudus itu akan terjaga hingga masa yang akan datang.

“Semoga Tari Lajur Caping Kalo dan Caping Kalo bisa mendunia, menjadi identitas Kudus yang dikenal masyarakat sebagai simbol kecintaan terhadap budaya daerah,” pungkasnya.

(Elm@n)