KUDUS – jursidnusantara.com Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Kudus Hartopo-Mawahib gencar silaturrahim dan sosialisasi progam kerja kepada 7 Forum Komunikasi Madrasah, Forum Peduli Pendidikan Madrasah Swasta hinga Forum Komunikasi Wiyata Bakti.
Ratusan dukungan dan pernyataan sikap dari para kyai dan ustadz-ustadzah di Kabupaten Kudus tersebut berlangsung di Aula kampus Poltekun turut Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus pada Jum’at, 6 September 2024 sore.
7 forum komunikasi tersebut adalah Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Ustadz Sholeh Syakur, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) KH. Rumadi, Badan Koordinasi Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (Badko LPQ) KH. Muh Nichan, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) KH. Muhib, Forum Komunikasi Pensiun Pegawai Universitas Pendidikan (FKPP) Ustadz Saifun Najib, Forum Peduli Pendidikan Madrasah Swasta (FPPMS) H. Misbachuddin, Forum Komunikasi Wiyata Bakti (FKWB) Susanto, pasangan Cabup-Cawabup Hartopo-Mawahib dan juga tamu undangan yang lainnya.

Sholeh Syakur yang mewakili 7 forum komunikasi tersebut mengatakan, pihaknya akan berjuang sepenuh hati dan ikhlas untuk memenangkan pasangan Hartopo-Mawahib dalam perhelatan Pilkada Kudus 2024.
“Kami tim relawan akan berjuang sepenuh hati dan ikhlas untuk memenangkan pasangan Hartopo-Mawahib dalam Pilkada tanggal 27 November 2024 mendatang,” katanya.
Dirinya beserta relawan 7 komunitas akan berkomitmen untuk mewujudkan Pilkada damai sekaligus menjunjung tinggi rasa persaudaraan dan kesantunan dalam setiap langkah perjuangan.
“Gerakan ini tak sekedar simbolis saja, kami atas kesadaran sendiri telah turun ke lapangan bergerak aktif melakukan sosialisasi ke masyarakat untuk memenangkan Hartopo-Mawahib,” imbuhnya.
“Kami hadir atas kesadaran sendiri, kami mantap mendukung pasangan Hartopo-Mawahib, karena itu yang pas dan sesuai di hati kami,” tandasnya.
Setelah deklarasi acara dilanjutkan dengan dialog terbuka antara anggota 7 forum komunikasi dengan Pasangan calon Bupati dan wakil Bupati Kudus.
Hartopo yang didampingi Mawahib mengatakan, bahwa saya dan Mawahib berterima kasih atas kontribusi panjenengan semua. Ini merupakan bentuk militansi yang luar biasa, bukan hanya sekadar loyalitas, semua ini menjadi ladang amal ibadah bagi kita semua, tentu hal seperti ini yang tidak akan pernah kami lupakan selamanya.
Hartopo juga memanfaatkan momentum tersebut untuk meluruskan isu-isu yang beredar terkait Tunjangan Kesejahteraan Guru Swasta (TKGS) yang dipangkas di masa kepemimpinannya.
Dirinya menjelaskan bahwa pada tahun 2019, Pemkab Kudus mampu memberikan TKGS sebesar Rp 1 juta per bulan untuk setiap guru. Total anggaran yang dialokasikan Pemkab Kudus mencapai mencapai Rp 130 miliar.
Namun saat pandemi Covid-19 melanda pada tahun 2020, anggaran yang sudah direncanakan harus di refokuskan untuk penanganan pandemi, sehingga beberapa program mengalami rasionalisasi termasuk anggaran TKGS.
“Kedepan apalagi anggaran tambah besar dan PAD meningkat, honor TKGS akan kami kembalikan menjadi Rp 1 juta per orang per bulan, selama 5 tahun kedepan,” tegasnya.
Selain itu, Hartopo menyoroti akan pentingnya dukungan dari para relawan dalam menghadapi Pilkada Kudus 2024. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada para kyai dan para ustadz-ustadzah serta kalangan Pondok Pesantren (Ponpes) di Kudus yang secara bulat sepenuh hati mendukung kami.

Sementara itu, Mawahib menyatakan bahwa nilai-nilai dalam tradisi santri itu jabatan tidak boleh dicari, tapi jika mendapat dawuh (perintah), maka kita tidak boleh lari.
“Saya menerima amanah ini dengan penuh tanggung jawab dan kesiapan untuk mengabdi kepada masyarakat Kudus,” ujarnya.
Lebih lanjut Mawahib menambahkan, memang dalam kepemimpinan Pak Hartopo dalam kondisi pandemi Covid-19 memaksa Pemkab Kudus harus melakukan langkah rasionalisasi untuk menyelamatkan nyawa warganya.
“Mau tidak mau memang harus seperti itu, nah sekarang pandemi Covid-19 sudah lewat, maka kedepan saya yang akan mengawal agar program-program tersebut tidak sebatas dilanjutkan, namun dikembalikan ke usulan awalnya,” terangnya.
Yang membedakan kami dengan calon sebelah adalah kalau pasangan Hartopo-Mawahib ini melanjutkan progam yang terdahulu, karena progam ini yang mengawali pada era Bupati Tamzil-Hartopo. Sedangkan dari calon sebelah adalah meniru istilahnya dari progam tersebut yang memang baik.
“Perbedaan pasangan Hartopo-Mawahib dengan pihak lain adalah kita tinggal meneruskan apa yang telah menjadi progam pak Hartopo kembali 1 juta lagi dan akan berlangsung selama 5 tahun kedepan,” pungkasnya.
(Elm@n)












