PATI – jursidnusantara.com
Bagi warga Desa Soko, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, kemarau bukan lagi musim yang datang tanpa tanda. Setiap kali hujan berhenti cukup lama, kekhawatiran lama kembali muncul: dari mana mendapatkan air bersih?

Desa Soko menjadi salah satu wilayah yang berulang kali menghadapi persoalan kekeringan. Ketika musim kemarau datang, sumber air warga semakin terbatas. Bahkan, air sumur yang masih tersedia pun tidak selalu bisa menjadi solusi.
Mita, warga Desa Soko, mengatakan sebagian masyarakat harus menghadapi kondisi air sumur yang terasa asin.
“Kalau kemarau seperti ini memang kami kesulitan air. Desa Soko sudah sering mengalami kekeringan,” ujar Mita.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri karena Desa Soko berada cukup jauh dari kawasan laut. Namun, air sumur yang digunakan warga justru terasa asin sehingga tidak nyaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kami ini jauh dari laut, tetapi air sumur rasanya asin. Kalau kemarau, air bersih memang sangat kami butuhkan,” ungkapnya.
Kondisi itu membuat bantuan air bersih menjadi sangat berarti bagi masyarakat. Minggu (6/9/2026), warga Desa Soko mendapat pasokan air bersih dari Forum Wartawan Pati (FWP).
Dua tangki air bersih yang dibawa FWP kemudian dibagi ke empat titik. Warga pun menyambut kedatangan bantuan tersebut dengan antusias.
Mita mengapresiasi kepedulian FWP yang turun langsung membantu masyarakat.
“Terima kasih kepada Forum Wartawan Pati. Bantuan air ini sangat berarti bagi kami. Semoga kegiatan seperti ini terus dilakukan dan semakin banyak warga yang bisa terbantu,” katanya.
Bagi warga Soko, persoalan air bukan hanya muncul ketika sumur benar-benar kering. Ketika air sumur berubah rasa dan kualitasnya menurun, kebutuhan akan air bersih tetap menjadi persoalan yang harus segera dicari jalan keluarnya.
Kondisi Desa Soko juga memperlihatkan bahwa dampak kekeringan tidak selalu identik dengan daerah yang berada di sekitar pesisir. Wilayah yang jauh dari laut pun dapat menghadapi persoalan kualitas dan ketersediaan air ketika musim kemarau berkepanjangan.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Pati periode 23 Juli hingga 3 September 2026, sebanyak 24 desa di sembilan kecamatan tercatat terdampak kekeringan. Sebanyak 2.831 kepala keluarga atau 9.323 jiwa masuk dalam data masyarakat terdampak.
Ketua Forum Wartawan Pati, DA. Ari Saptono, mengatakan keterlibatan wartawan dalam aksi sosial tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi masyarakat. Hari ini penyaluaran bantuan pada tahap pertama dengan menyasar desa Soko kecamatan Gabus 2 tangki dan desa Tambahmulyo kecamatan Jakenan 3 tangki.
“Kami tidak hanya menjalankan fungsi jurnalistik, tetapi juga ingin hadir dan ikut membantu masyarakat ketika menghadapi kesulitan, khususnya dalam memenuhi kebutuhan air bersih, walau belum mencukupi, setidaknya bisa meringankan beban warga, air yang kita salurkan hari ini ada 5 tangki kapasitas 6.600 liter, 2 tangki di desa Tambahmulyo dan 3 tangki di desa Soko” ujarnya.

Bantuan air bersih tersebut mungkin hanya menjadi solusi sementara bagi warga. Namun bagi masyarakat Soko yang setiap tahun kembali berhadapan dengan persoalan kekeringan, kedatangan air bersih memberikan kelegaan yang nyata.
Sebab ketika sumur tak lagi dapat diandalkan, air bersih bukan sekadar bantuan. Bagi warga Soko, air adalah kebutuhan yang menentukan bagaimana mereka menjalani hari-hari selama kemarau.












