KUDUS – jursidnusantara.com Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kudus berlangsung semarak. Salah satunya digelar pementasan teater “Gadis Pingitan” yang digelar di Gedung Auditorium UMK pada Sabtu malam, 9 Mei 2026.
Dalam lakon teater tersebut mengangkat dinamika budaya perjodohan masa lampau di lingkungan Kudus Kulon (kawasan Kauman, Kecamatan Kota, Kudus).

Proyek kolaborasi teater dan film dokumenter ini merupakan upaya pelestarian kearifan lokal yang bertujuan mengenalkan sejarah serta kebudayaan lokal kepada generasi muda.
Ide awal proyek teater sekaligus film dokumenter itu lahir dari gagasan Bupati Kudus Sam’ani Intakoris sebagai bentuk penguatan literasi sejarah dan budaya lokal bagi generasi muda.
Dalam kesempatan tersebut, Sam’ani menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kudus memberikan dukungan penuh terhadap kreativitas anak muda yang peduli pada sejarah dan identitas budaya daerah.
“Pemkab Kudus sangat mendukung pementasan ini. Ini membuktikan masih banyak generasi muda Kudus yang kreatif dan memiliki kepedulian terhadap budaya daerahnya sendiri,” ujar Sam’ani.
Menurutnya, seni pertunjukan seperti Gadis Pingitan menjadi media edukasi yang efektif untuk mengenalkan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda di tengah derasnya arus modernisasi.
Ia berharap teater dan film dokumenter tersebut mampu memperkuat literasi sejarah sekaligus menanamkan nilai penghormatan terhadap perempuan dan budaya lokal agar tetap relevan di masa mendatang.
“Banyak nilai yang bisa dipelajari, termasuk bagaimana menghargai marwah perempuan agar tetap dijaga dan dipahami oleh generasi berikutnya,” imbuhnya.
Sementara itu, Koordinator Musyawarah Guru Mata Pelajaran !MGMP) Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Kudus, Ahmad Sofya Edi, menjelaskan, bahwa proyek budaya tersebut merupakan kolaborasi antara MGMP Bahasa Indonesia dengan Pemerintah Kabupaten Kudus sebagai ruang refleksi pendidikan dan budaya.
Menurutnya, tradisi pingitan selama ini sering dipandang negatif sebagai bentuk pembatasan kebebasan perempuan. Padahal, di balik tradisi tersebut terdapat nilai sosial, pendidikan, dan budaya yang perlu dipahami secara lebih utuh.
“Melalui kisah Rania, remaja asal Kudus Kulon, film ini mengajak masyarakat melihat tradisi pingitan dari sudut pandang budaya dan pendidikan,” jelasnya.
Guru tidak hanya memiliki peran sebagai pendidik di ruang kelas, tetapi juga dapat menjadi penggerak budaya yang melahirkan karya-karya inspiratif bagi masyarakat.
“Gadis Pingitan menjadi karya kedua kami. Kami ingin terus menjaga nilai budaya, menghargai peran perempuan, sekaligus membangun karakter generasi muda melalui seni dan literasi,” katanya.
Dukungan terhadap pementasan “Gadis Pingitan” juga datang dari Djarum Foundation melalui perwakilannya, Asa Jatmiko. Ia menilai karya budaya tersebut penting untuk menjaga identitas lokal di tengah perkembangan zaman yang semakin modern. Ia juga mengapresiasi dan memuji inisiatif orisinil dari kepala Daerah.
“Gagasan ini menjadi menarik karena berasal dari ide Bupati Sam’ani sendiri. Kegiatan ini mengajak masyarakat belajar tentang nilai-nilai luhur yang tetap relevan hingga sekarang. Kearifan lokal memang penting diabadikan menjadi karya seni,” terangnya.
Pementasan Gadis Pingitan sekaligus menjadi bukti bahwa seni, literasi, dan budaya dapat berjalan beriringan dalam membangun karakter generasi muda serta memperkuat identitas budaya Kabupaten Kudus.
(Elm@n)


