Ribuan Warga Ikuti Kenduren Kupatan di Masjid Besar Darussalam Jetak Kedungdowo Kudus

KUDUS – jursidnusantara.com Ribuan warga dukuh Jetak Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, tampak antuasias mengikuti kenduren kupatan yang diselenggarakan oleh Takmir Masjid Besar Darussalam.

Kyai Moh. Muhibbin ketua Ta’mir Masjid Besar Darussalam Jetak Kedungdowo mengungkapkan, kegiatan kenduren kupatan adalah merupakan salah satu progam tahunan pengurus masjid Besar Darussalam.

“Acara do’a bersama dalam rangka lebaran kupatan merupakan sebuah tradisi leluhur yang perlu kita lestarikan dan ini merupakan progam tahunan”, ungkapnya.

Sebelum acara do’a bersama kenduri kupatan dimulai, tadi pagi sekira pukul 05.20 WIB kita isi dengan terbang papat, hal ini dikandung maksud untuk mengundang masyarakat yang ingin mengikuti acara kenduren kupatan.

“Lebaran 1 syawal biasanya diawali dengan saling mema’afkan sesama warga, setelah itu, Lebaran ketupat itu sebagian disedekahkan ke Masjid dengan harapan agar selalu diberi kelancaran rezeki, kesehatan, keselamata, dan keberkahan,” terangnya.

Kegiatan Kenduri Kupatan tersebut bertempat di serambi Masjid Besar Darussalam Jetak Kedungdowo. Acara berlangsung pada Senin, 07 April 2025.

Adapun susuan acara sebagai berikut; pembukaan Ali Ahmadi Kadus Desa Kedungdowo, Iftitahul Majlis Oleh Ustadz Umar Said, Sholawat Ustadz Anis Naf’an, Sambutan Pembina Takmir oleh KH. Ali Ihsan, dan Do’a penutup saya sendiri.

Dalam pembukaan acara Ali Ahmadi yang merupakan Kepala Dusun (Kadus) dari Pemerintah Desa Kedungdowo yang membuka acara tersebut mengatakan, kita warga dukuh Jetak Desa Kedungdowo tetep memelihara tradisi dan budaya Jawa yakni Kenduren Kupatan dalam rangka tasyakuran dan do’a bersama di Masjid Besar Darussalam sejak zaman dahulu hingga sekarang.

“Setelah enam hari kita berpuasa Sunnah, sebagai rasa syukur atas nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada kita semua, kemudian kita mengadakan selamatan Kupatan”, katanya.

Ali Ahmadi juga menjelaskan bahwa, Lebaran Ketupat tahun 1446 Hijriyyah / 2025 Masehi atau Syawalan adalah tradisi silaturrahim dan saling berma’af-ma’fan setelah idul Fitri 1 Syawwal.

“Al-hamdulillah pelaksanaan Lebaran Kupatan pada pagi hari ini berjalan dengan aman, lancar, dan sukses”, terangnya.

Sementara itu, KH. Ali Ihsan, pembina Ta’mir Masjid Besar Darussalam mengatakan, ketupat ini berawal dari penyebaran agama Islam di Pulau Jawa oleh Sunan Kalijaga.

Dimana Sunan Kalijaga dalam memperkenalkan Bakda lebaran dan Bakda Kupat sebagai informasi Bakda Kupat merupakan budaya yang dimulai satu pekan setelah Lebaran. Pada hari itu, banyak masyarakat yang menganyam dan mempersiapkan hidangan ketupat. Kemudian ketupat akan dibagikan kepada kerabat yang lebih tua sebagia simbol kebersamaan.

“Perlu diketahui bahwa, umat Islam itu hanya ada dua lebaran yakni Idul Fitri dan Idul Adha (bodo gede atau Idul Fitri dan bodo besar atau Idul Adha),” kata Ali Ihsan.

Kata kupat berasal dari bahasa Jawa “Ngaku Lepat (mengaku akan kesalahan) secara filosofis sesama umat muslim diharapkan mengakui kesalahan dan saling mema’afkan dengan memakan ketupat tersebut.

“Menurut tradisi Jawa, bungkus ketupat terbuat dari Janur kuning yang melambangkan tolak bala, sedangkan bentuk segi empat mencerminkan kiblat papat lima pancer, artinya kemanapun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Allah SWT atau arah kiblat”, terangnya.

Ketupat berasal dari kata ‘Kupat’ dengan arti ganda yakni ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan lalu papat (empat tindakan).

Empat tindakan yang dimaksudkan antara lain; Luberan (melimpah), Leburan (melebur dosa/saling mema’mafkan), Lebaran (pintu ampunan terbuka lebar), dan Laburan (dibersihkan, mensucikan diri).

H. Ali Ihsan yang juga sebagai anggota DPRD Kudus fraksi PKB mengungkapkan bahwa, kerumitan anyaman bungkus ketupat sebagai macam kesalahan manusia. Kompleksitas masyarakat Jawa yang harus dieratkan dengan silaturrohim.

Sebagai bagian dari warisan budaya, Kupatan bukan hanya tentang menikmati hidangan khas Lebaran, tetapi juga tentang merenungkan perjalanan spiritual dan mempererat tali silaturahim. Dengan memahami filosofi di baliknya, perayaan ini menjadi lebih bermakna dan tak sekadar tradisi turun-temurun.

Sementara itu, Maslikan salah satu perewang kenduren mengungkapkan perasaannya senang bisa terlibat dan membatu dalam kegiatan kenduren kupatan.

“Saya setiap ada kegiatan kenduren kupatan sering ikut rewang (membantu) dalam kegiatan kenduren kupatan,” ujarnya.

Lis Minarti beserta keluarga yang ikut kenduren kupatan dirinya mengatakan, senang bisa ikut dalam acara kenduren kupatan kali ini. Apalagi yang ikut acara ini ada ribuan, mulai dari orang dewasa, maupun anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, cuaca hari ini juga cerah tidak hujan.

“Senang bisa ikut kegiatan ini, yang ikut ada ribuan baik orang dewasa maupun anak-anak,” katanya.

(Elm@n)

error: Content is protected !!