KUDUS – jursidnusantara.com Silaturrahim Mantan Wakil presiden atau mantan Wapres ke-13 Republik Indonesia Prof., Dr., KH Ma’ruf Amin melakukan serangkaian kunjungan di wilayah Kabupaten Kudus, pada Jumat, 27 Desember 2024.
Kunjungan ini merupakan bagian dari peringatan Haul ke-67 KH Raden Asnawi, salah satu ulama besar dan tokoh pendiri NU asal Kabupaten Kudus.

Kunjungan diawali dengan ziarah ke makam Habib Ja’far Alkaff yang berada di pemakaman umum Ploso, Kecamatan Jati, sekira pukul 08.00 WIB.
Tampak dilokasi makan Habib Ja’far Alkaff kehadiran KH Ma’ruf Amin masih disertai pengawalan Paspampres, aparat Kodim dan Polres Kudus. Hal tersebut cukup menarik perhatian masyarakat. Dengan didampingi Pj Bupati Kudus beserta sejumlah pejabat Pemkab Kudus, sejumlah politisi PKB serta tokoh-tokoh Kudus lainnya.
KH Ma’ruf Amin yang tiba di area makam langsung melakukan ziarah ke makam Habib Ja’far, seorang tokoh yang semasa hidupnya dipercaya memiliki karomah atas kewaliannya.
Setelah melakukan proses ziarah, KH Ma’ruf Amin pun bertolak menuju Ponpes Yanbu’ul Qur’an untuk menghadiri acara Silaturahim dengan Majlis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren Se-Indonesia (MP3I) Kabupaten Kudus.
KH Hafidz Asnawi ketua Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren Indonesia (MP3I) Kabupaten Kudus, mengucapkan terima kasih atas kehadiran KH Ma’ruf Amin di Kudus.
Pihaknya berharap agar pertemuan tersebut bisa menjadi ajang sarana silaturahmi antara para Kyai pengasuh pesantren yang tergabung dalam MP3I.
Dengan hadirnya KH Ma’ruf Amin di Kudus kita jadikan momentum penting untuk menyampaikan aspirasi maupun segala sesuatu terkait pesantren.
Lebih lanjut KH Hafidz Asnawi menambahkan, bahwa KH Ma’ruf Amin sebagai sosok Kyai sepuh layak untuk menjadi panutan.
Kiprahnya dibidang keagamaan, kemasyarakatan, bahkan sampai pemerintahan sudah pernah dijalani.
Dengan kesempatan ini pula dimanfaatkan oleh para Kyai Pengasuh Pesantren untuk menimba ilmu dan cakrawala pengalaman dari KH Ma’ruf Amin sebagai Kyai yang berkiprah ditengah masyakarat.

Sementara, KH Ma’ruf Amin menyampaikan beberapa hal penting bagi pesantren dalam menghadapi perkembangan zaman.
“Salah satunya adalah bagaimana pesantren selalu melakukan inovasi dan tidak statis atau jumud,” katanya.
Lebih lanjut KH Ma’ruf Amin menambahkan, bahwa dirinya lahir dan tumbuh dikalangan NU, maka pendekatan pemikiran ini meliputi Tawasut atau Moderat, Tathowur atau Dinamis, dan tetap ber-Manhaj.
Cicit Syekh Nawawi Albantani ini kemudian menyitir salah satu prinsip yang dianut dalam Aswaja, yaitu “al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah”.
Prinsip tersebut mendorong semua pihak untuk terus berinovasi dalan menghadapi perubahan jaman.
Pesan KH Ma’ruf Amin yang terakhir adalah Pendekatan atau perbaikan Ulama-ulama pendiri NU merumuskan organisasi yang bersifat Islahiyah.
Islahiyah dalam arti kata perbaikan sebagai salah satu landasan fundamental dalam organisasi. Islahiyah yang menyangkut perbaikan pada ranah agama dan ranah sosial kemasyarakatan.
“Organisasi NU ini sifatnya Islahiyah Diniyatan Wa Ijtimaiyatan (Perbaikan dibidang keagamaan dan sosial),” pungkasnya.
(Elm@n












