Khutbah Masjid Besar Darussalam Jetak Kedungduwo 1447 H, Meneladani Nabi Ibrahim, Melahirkan Kepedulian Sosial

KUDUS – jursidnusantara.com Momentum Hari Raya Idul Adha (Idul kurban) memiliki makna yang mendalam dan banyak nilai. Diantaranya adalah makna semangat bagi kehidupan pribadi dan sosial yang selalu relevan di setiap massa dan perlu peneguhan dalam kehidupan.

Selain sebagai ibadah yang memiliki dimensi vertikal kepada Allah SWT, kurban juga memiliki dimensi horizontal atau sosial berbagi rezeki dengan orang lain.

Pelaksanaan sholat dilaksanakan pada Rabu pagi (27/5/2026) yang dimulai pukul 06.15 WIB dengan Imam oleh Kyai Muhibbin, S.Pd.I, Khotib oleh KH. Ali Ihsan, S.Ag., MH., dan Bilal Ustadz Fathul Alim, S.Pd.I,. Al-Hafidz.

Dalam khutbahnya KH. Ali Ihsan, S.Ag., MH., menyampaikan,

اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Kita patut bersyukur kepada Allah SWT karena telah dipanjangkan usia di anugerahi hidup sehat, sehingga sampai bisa menikmati kembali Idul Adha tahun 1447 H. Tidak terasa waktu lekas berlalu, masa berjalan cepat, begitu singkat waktu kita rasakan, pertanda betapa akhir perjalanan hidup semakin dekat, umur kita semakin pendek, memangkas kesempatan berlama tinggal di dunia dan hari Kematian kian mendekat.

Pada Idul Adha yang penuh berkah ini, kita diingatkan kembali pada sebuah kisah agung yang menjadi fondasi spiritual umat Islam, yaitu keteladanan Nabi Ibrahim AS. Beliau adalah sosok yang diuji dengan berbagai ujian berat, namun tetap menunjukkan keimanan dan ketaatan total kepada Allah SwT.

Dijelaskan dalam Surat An-Nahl ayat 123;

ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ۝١٢٣

“Kemudian, Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim sebagai (sosok) yang hanif dan tidak termasuk orang-orang musyrik”.

Dalam surat tersebut kita diperintahkan untuk untuk meneladani keteguhan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail As dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Dikisahkan dalam puncak ujian Nabi Ibrahim AS, ketika beliau diperintahkan untuk menyembelih putra yang dikasihinya, Nabi Ismail AS. Peristiwa luar biasa ini bukan sekadar kisah pengorbanan, tetapi juga simbol keikhlasan, ketundukan, dan kepercayaan penuh kepada Allah Swt. gambaran sosok personal yang memiliki kematangan spiritualitas yang tidak ada bandingannya.

Kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya merupakan contoh teladan yang baik bagi kita semua, teladan dalam keimanan yang kuat, teladan dalam ketaatan melaksanakan perintah Allah SWT tanpa ragu sedikitpun.

Ali Ihsan yang juga sebagai anggota DPRD Kudus Fraksi PKB ini menjelaskan, bahwa sedikitnya ada empat hal yang bisa kita ambil sebagai uswah hasanah dalam kehidupan kita.

Pertama Nabi Ibrahim memiliki spiritualitas keagamaan yang tinggi sehingga dengan Ikhlas melakukan penyerahan diri mutlak kepada Allah SWT.

Nabi Ibrahim AS mengajarkan kepada kita bahwa puncak spiritualitas adalah kepatuhan totalitas tanpa ragu kepada Allah SwT:

إِذۡ قَالَ لَهُۥ رَبُّهُۥٓ أَسۡلِمۡۖ قَالَ أَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ
“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab: ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam’.” (QS. Al-Baqarah: 131)

Spiritualitas seperti inilah yang membuat nabi Ibrahim mampu meletakkan pisau di leher putranya demi cinta dan taat kepada perintah Sang Khalik, pencipta alam semesta melebihi cinta beliau kepada apapun yang dimilikinya.

Kedua Nabi Ibrahim memiliki kesadaran sosial yang melampaui egoisme dirinya. Ajaran berkurban bukan tentang pengorbanan darah atau daging hewan yang disembelih, tapi berisi ajaran tentang kepedulian kepada sesama sebagai salah satu bagian ketaqwaan kepada Allah SWT.

Melalui pembagian daging kurban kepada masyarakat, kita diingatkan untuk menghilangkan tembok pemisah antara orang kaya dan orang miskin.

Diingatkan pula untuk membagi kekayaan yang dimiliki kepada orang yang membutuhkan sebagai bagian dari kesadaran bahwa kita itu hidup Bersama dalam masyarakat.

Ketiga Nabi Ibrahim memiliki Kecerdasan Intelektual yang mampu melahirkan keterbukaan melalui dialog (komunikasi).

Nabi Ibrahim tidak memaksakan perintah Allah secara otoriter kepada anaknya. Tetapi beliau mengajak dialog secara terbuka dan demokratis kepada Ismail sebagai sebuah bentuk kecerdasan emosional dan intelektual yang tinggi:

Allah SwT berfirman dalam Al-Qur’an:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelih mu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’” (QS. Ash-Shaffat:102)

Sikap kesediaan untuk berdialog dan keterbukaan menjadi pelajaran bagi kita, para orang tua untuk membangun komunikasi yang sehat dan cerdas dengan generasi muda agar terjadi interaksi sehat antar anggota keluarga. Begitu pula anak akan terdidik untuk bersikap demokratis terbuka dan mampu menyerap inspirasi positif.

Ke empat Nabi Ibrahim memiliki moralitas yang terpuji. Ibadah Kurban pada hari raya Idul Adha adalah simbol perjuangan melawan hawa nafsu. Hawa Nafsu kebinatangan.

Nabi Ibrahim AS berhasil melawan godaan setan yang merayu agar membatalkan perintah Allah, tapi Nabi Ibrahim tidak bergeming tetap melaksanakan perintah Allah yang ia Yakini kebenarannya. Inilah integritas moral yang sesungguhnya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

اللهُ أَكْبَرُ،اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْد

KH. Ali Ihsan menegaskan, bahwa Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang menyembelih ego, keserakahan, dan individualisme yang dimiliki oleh kita semua.

Dalam konteks kehidupan modern, terutama di era digital saat ini, tantangan egoisme dan keserakahan semakin kompleks dan menguat. Sehingga banyak orang yang tidak peduli dengan orang lain.

“Banyak hikmah yang bisa kita petik di Hari Raya Idul Adha 1447 H ini, kita perkokoh ketaqwaan kita kepada Allah SWT, dan saatnya untuk memupuk solidaritas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”,tutup Ali Ihsan dalam isi Khutbahnya.

(Elm@n)