Khutbah Masjid Besar Darussalam Jetak Kedungdowo Kudus, Idul Adha Momentum Perkuat Spiritual Dan Solidaritas Sosial

 

KUDUSjursidnusantara.com Hari Raya Idul Adha atau Idul kurban mengandung banyak nilai, makna dan semangat penting bagi kehidupan pribadi dan sosial yang selalu relevan di setiap massa dan perlu peneguhan dalam kehidupan berbangsa.

Selain sebagai ibadah yang memiliki dimensi vertikal kepada Allah SWT, kurban juga memiliki dimensi horizontal atau sosial berbagi rezeki dengan orang lain.

KH. Ali Ihsan, S.Ag., MH., Dalam khutbah Idul Adha 1444 H/2023 M di Masjid Besar Darussalam Jetak Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus menyampaikan, Jika dalam Hari Raya Idul Fitri, kita membahagiakan orang dengan zakat fitrah, maka pada saat Idul Adha ini kita bahagiakan hati orang lain dengan ibadah kurban.

Keteladanan yang diwariskan Nabi Ibrahim dan anaknya, Nabi Ismail perlu diresapi dengan seksama sehingga perayaan Idul Adha dapat menjadi momentum yang dapat memperkuat kesalehan spiritual sekaligus memupuk rasa solidaritas.

Read  Ketoprak Pawarto Budhoyo, Ketopraknya Wartawan akan Segera Pentas Perdana

Nilai-nilai itu pula yang menjadi cerminan hikmah dari perintah agama menyembelih hewan kurban di setiap momentum Idul Adha. Masyarakat yang memiliki kelebihan materi dituntut kerelaannya dalam berkurban untuk dibagikan kepada warga lainnya, terutama mereka yang tidak mampu agar sama-sama menikmati dan merasakan indahnya kebahagiaan di hari raya kurban.

“Banyak hikmah yang bisa kita petik di Hari Raya Idul Adha ini, kita perkokoh ketaqwaan kita kepada Allah SWT, dan saatnya untuk memupuk solidaritas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”, Ungkap Ali Ihsan dalam isi Kutbahnya.

Lebih lanjut H. Ali Ihsan yang juga sebagai anggota DPRD Kudus F-PKB menambahkan, pada perayaan Idul Adha, seluruh umat muslim, dimanapun berada, mengambil keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Kisah tentang mereka memberikan pelajaran tentang keikhlasan yang begitu besar.

Read  Kalapas Pati Serahkan Remisi Khusus kepada WBP

Nabi Ibrahim dalam skenario Tuhan, diminta menyembelih seorang Ismail, anak satu-satunya yang diperolehnya setelah penantian yang lama.

Meski kemudian diganti dengan seekor hewan, tetapi Ibrahim lulus ujian keikhlasan karena tidak menolak tuntutan tersebut.

“Pelajaran yang lebih luas lagi yang terkandung dalam Idul Adha dapat dipetik dari dialog antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Setelah mendapat perintah Tuhan, Ibrahim masih meminta pendapat Ismail. Hal itu memberikan sirat bahwa ada dialog antara yang tua dan muda. Bila dikaitkan dengan manajemen modern, hal ini disebut manajemen partisipatif”, tambahnya.

Idul Adha dijadikan momentum untuk meningkatkan ibadah, dengan saling berbagi kebaikan kepada sesama diantara yang membutuhkan bantuan, sehingga tercipta kehidupan yang harmonis, baik antar sesama umat beragama.

Read  Puncak Acara Hari Bhakti Pemasyarakatan Ke 60, Lapas Pati Gelar Upacara dan Tasyakuran.

“Idul Adha juga melatih diri untuk menjadi dermawan menjadi pribadi yang berjiwa besar dan bersabar, mempererat tali silaturahmi, serta memperkuat solidaritas kemanusiaan kepada sesama”, tegasnya.

Pada hari ini juga saudara-saudara kita yang sedang menjalankan ibadah Haji di Makkah Al-Mukarromah, mereka sedang menjalankan Wukuf di Arofah dengan pakaian serba putih.

“Padang Arofah itu tanahnya lapang, gersang dan saat ini cuaca panas, Padang Arofah merupakan miniatur Padang Mahsyar besuk di akhirat, mari kita do’akan saudara kita dapat menjalankan Syarat, Rukun, dan wajib Haji, sehingga mereka dapat kembali menjadi Haji yang Mabrur Amin”, pungkasnya.

 

(Luq)

error: Content is protected !!