PATI jursidnusantara.com — Jalan Panglima Sudirman, Kabupaten Pati, yang merupakan salah satu ruas jalan satu arah di kawasan pusat kota, belakangan menjadi sorotan pengguna jalan. Parkir kendaraan, aktivitas pedagang kaki lima (PKL), ditambah pekerjaan proyek di sepanjang kawasan tersebut membuat kondisi jalan terlihat semakin semrawut. (1/10)
Pantauan di lokasi menunjukkan, ruang jalan yang seharusnya digunakan untuk pergerakan kendaraan harus berbagi dengan kendaraan yang berhenti maupun parkir di tepi jalan serta aktivitas PKL.
Kondisi itu membuat lebar efektif jalan yang dapat dilalui kendaraan semakin menyempit. Bahkan, pada titik tertentu, pengguna jalan mengeluhkan ruang yang tersisa untuk melintas terasa hanya sebagian kecil dari lebar jalan.
Situasi semakin terasa ketika volume kendaraan meningkat. Mobil dan sepeda motor harus berjalan perlahan melewati celah yang tersedia, sementara aktivitas masyarakat di sisi jalan terus berlangsung.
Parkir dan PKL Memakan Ruang Jalan
Keberadaan kendaraan yang parkir di sisi jalan menjadi salah satu persoalan yang paling mudah terlihat.
Di sejumlah titik, kendaraan berhenti cukup dekat dengan badan jalan. Pada saat bersamaan, lapak PKL, kursi, meja, hingga aktivitas pembeli juga mengambil ruang di sekitar tepi jalan.
Akibatnya, jalan satu arah yang seharusnya memberikan kelancaran arus kendaraan justru kehilangan sebagian ruang fungsionalnya.
“Kalau ramai, lewat sini harus pelan. Parkir dan pedagang membuat jalan terasa sempit,” keluh seorang pengguna jalan.
Keluhan serupa juga disampaikan pengguna jalan lainnya. Mereka tidak mempersoalkan keberadaan pedagang maupun aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi berharap ada penataan sehingga aktivitas tersebut tidak mengganggu fungsi utama jalan.
Proyek Ikut Menambah Keruwetan
Persoalan tidak berhenti pada parkir dan PKL.
Aktivitas proyek di kawasan Jalan Panglima Sudirman juga membuat kondisi lingkungan jalan semakin padat. Material, pembatas pekerjaan maupun aktivitas pekerja perlu diatur sedemikian rupa agar tidak semakin mengurangi ruang gerak kendaraan.
Di tengah kondisi tersebut, pengguna jalan berharap pelaksanaan proyek tidak hanya mengejar target pekerjaan, tetapi juga memperhatikan manajemen lalu lintas selama pekerjaan berlangsung.
Rambu sementara, pembatas yang jelas, pengaturan parkir serta ruang aman bagi pejalan kaki dinilai penting agar aktivitas pembangunan tidak memperparah kemacetan.
Ketika Jalan Kehilangan Ruang
Jalan Panglima Sudirman bukan sekadar jalur yang dilewati kendaraan. Kawasan ini juga menjadi ruang aktivitas ekonomi masyarakat.
PKL mencari penghasilan, warga berbelanja, kendaraan berhenti untuk berbagai keperluan, sementara proyek pembangunan berjalan.
Semua aktivitas tersebut memiliki kepentingannya masing-masing.
Namun ketika semuanya mengambil ruang yang sama, persoalan muncul.
Ruang jalan yang semestinya menjadi hak pengguna kendaraan perlahan terpotong oleh parkir, lapak dan aktivitas lainnya.
Kemacetan pun bukan lagi sekadar persoalan banyaknya kendaraan. Kapasitas jalan yang semakin menyempit turut menjadi bagian dari persoalan.
Masyarakat berharap pemerintah melakukan penataan secara menyeluruh. Bukan sekadar menertibkan PKL atau melarang parkir, tetapi menghadirkan solusi yang tetap memperhatikan keberlangsungan usaha masyarakat sekaligus menjamin fungsi Jalan Panglima Sudirman sebagai jalur lalu lintas.
Sebab, jalan satu arah sekalipun tetap membutuhkan ruang yang cukup untuk bergerak.
Ketika ruang itu terus berkurang, perjalanan yang seharusnya lancar bisa berubah menjadi antrean panjang hanya karena jalan tidak lagi memiliki cukup ruang untuk menjalankan fungsi utamanya.












