Desa  

Ribuan Penonton Kirab Jenang Tebokan Kaliputu, Cara Warga Rayakan Tahun Baru Islam

KUDUS – jursidnusantara.com Pemerintah Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, menggelar Gerebeg Suro dengan menggelar berbagai kegiatan mulai dari Pengajian Haul Kanjeng Kyai Raden Adipati Aryo Tjondronegoro III, Kirab Luwur Hingga Kirab Budaya Jenang Tebokan.

Kegiatan tersebut berlangsung pada tanggal 26 Juni hingga 22 Juli 2025. Untuk Kirab Jenang Tebokan berlangsung pada Jum’at, 27 Juni 2025 yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1447 Hijriyah. Gelaran tersebut dimulai dari Jalan RMP Sosrokartono dan finish di halaman Balai Desa Kaliputu. Acara dijadwalkan pada pukul 14.00-17.30 WIB.

Kepala Desa (Kades) Kaliputu Widiyo Pramono mengatakan, Kirab Tebokan Jenang dilaksanakan sejak tahun 2010, merupakan bentuk pelestarian budaya dan warisan leluhur, untuk mengenalkan asal-usul desa sekaligus mengangkat potensi usaha jenang yang sudah terkenal di desa tersebut.

“Ada 20 peserta yang ikut berpartisipasi dalam Kirab Jenang Tebokan pada tahun ini,” Kata Widiyo Pramono pada Jum’at Sore, 27 Juni 2025.

Kirab Jenang Tebokan merupan visualisasi kisah yang terjadi pada tahun 1540-an di daerah setempat. Seorang anak kecil yang sedang menerbangkan merpati di tepi sungai terjatuh ke dalam air dan tidak dapat diselamatkan.

Anak tersebut, merupakan cucu dari Mbah Dempok Soponyono. Dalam kesedihannya, Ia kemudian meminta bantuan kepada salah seorang murid Sunan Kudus, yaitu Raden Syarifuddin atau lebih dikenal dengan nama Syekh Jangkung (Saridin).

Dengan kebijaksanaannya, Syekh Jangkung mengoleskan jenang gamping bubur putih ke tubuh cucu Mbah Dempok. Berkat doa dan sabdanya, anak itu pun bisa hidup kembali.

Kisah ajaib tersebut pun menjadi cikal bakal nama Desa Kaliputu, yang kemudian dikenal menjadi Kaliputu hingga sekarang.

Widiyo Pramono juga menjelaskan, bahwa kegiatan ini bertujuan agar masyarakat, terutama generasi muda, mengetahui sejarah jenang yang menjadi ciri khas desa.

“Kirab ini menjadi sarana penting untuk mengenalkan kepada anak-anak muda tentang sejarah desa kami dan juga mendorong tumbuhnya usaha jenang di Kaliputu,” ujarnya.

Kirab Tebokan Jenang diadakan setiap tanggal 1 Muharram menurut kalender Islam, dengan melibatkan masyarakat dari berbagai lapisan usia yang bersatu merayakan tradisi ini dalam suasana yang penuh kebersamaan.

Di penghujung acara, ribuan warga berebut gunungan berisi jenang, hasil bumi, dan tebok (tampah) sebagai simbol berkah yang datang dari sejarah dan hikayat Mbah Dempok Soponyono.

“Kami ingin generasi mendatang tahu dan bangga dengan cerita yang ada di desa mereka. Kirab ini penting sebagai pengingat sekaligus upaya mempertahankan kearifan budaya lokal yang sudah ada sejak lama,” jelasnya.

Sementara itu, Moh. Fauzi dan istrinya Dwi Noor Khasanah warga Desa Pedawang RT 02 RW 03 yang menyaksikan Kirab Jenang Tebokan dan ikut berebut gunungan jenang dan hasil bumi mengatakan, senang bisa dapat jenang dan hasil bumi.

“Alhamdulilah dapat Jenjang dan sayuran hasil bumi bisa kami masak, kami datang kesini untuk melihat kirab dan ikut ambil berkah gunungan jenang dan hasil bumi,” ujarnya.

Kami cukup terhibur dengan adanya Kirab Jenang Tebokan. Kami sering melihat pawai-pawai ini hampir setiap tahun.

“Pawai tahun ini kayaknya lebih ramai dan meriah, semoga saja tahun depan bisa lebih meriah lagi,” pungkasnya.

(Elm@n)

error: Content is protected !!